Gubernur BI Perry Warjiyo.
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) optimistis tingkat inflasi di Indonesia bakal tetap terjaga dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen hingga tahun depan.
“Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2025 dan 2025 tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Agustus 2025 secara daring di Jakarta, Rabu (20/8).
BI menyoroti dukungan tiap komponen inflasi. Inflasi inti (core inflation) dan harga diatur pemerintah (administered price) berhasil ditekan, sedangkan inflasi harga bergejolak (volatile food) tetap terkendali.
Secara rinci, inflasi inti turun menjadi 2,32 persen (yoy). Perry menyebut konsistensi suku bunga kebijakan moneter dalam mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya berkontribusi dalam penurunan ini.
Selain itu, inflasi impor (imported inflation) dan harga pangan global yang rendah juga dikatakan turut mendukung melandainya inflasi inti.
Untuk inflasi harga diatur pemerintah tercatat turun menjadi 1,32 persen (yoy). Menurut BPS, komoditas yang berkontribusi dalam penurunan komponen inflasi ini adalah tarif air minum PAM yang terjadi di 13 wilayah, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.
Terkait harga bergejolak, inflasi terjaga pada level 3,82 persen (yoy), dengan komoditas penyumbang yaitu bawang merah, tomat, dan beras.
BI menyebut kinerja inflasi ini turut didukung oleh terjaganya kecukupan pasokan komoditas pangan utama.
Sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) juga dikatakan berkontribusi dalam menjaga inflasi harga bergejolak.
Adapun untuk ke depannya, BI memperkirakan inflasi inti akan tetap rendah seiring dengan ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali, dan dampak positif dari digitalisasi.
Selanjutnya, inflasi harga bergejolak diperkirakan terkendali, didukung oleh sinergi pengendalian inflasi BI dan pemerintah, baik di pusat maupun daerah.
BI juga optimistis pertumbuhan ekonomi pada semester II 2025 bakal menguat yang didukung oleh kinerja ekspor dan konsumsi domestik. “Pada semester II 2025, pertumbuhan ekonomi diprakirakan membaik, didorong oleh tetap positifnya kinerja ekspor dan meningkatnya permintaan domestik, sejalan dengan ekspansi belanja pemerintah,” kata Perry.
Pada triwulan II 2025, perekonomian tercatat tumbuh 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari rekor triwulan I sebesar 4,87 persen (yoy).
BI juga menyampaikan penurunan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi di level 5 persen sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026, terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi.***
