JAKARTA(LB)- Kementerian Kesehatan menyebut bahwa merokok menduduki tiga besar faktor risiko yang menyebabkan penyakit di Indonesia maupun di dunia.
“Tekanan darah tinggi, merokok dan gula darah tinggi menduduki tiga teratas faktor risiko yang menyebabkan beban penyakit di Indonesia maupun di dunia,” kata Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Akibat Tembakau dan Penyakit Paru Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Benget Saragih di Jakarta, Rabu (23/7).
Hal itu dikatakannya dalam acara workshop media bertajuk Advokasi Tobacco Tax dan Tobacco Control.
Benget Saragih menyampaikan perokok aktif rentan mengalami sejumlah penyakit, di antaranya stroke iskemik, penyakit cardiovaskular, penyakit jantung, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga kanker paru.
“Risiko kanker paru 8,9 kali lebih tinggi pada perokok dibandingkan yang tidak merokok. 84,6 persen kasus kanker paru pada laki-laki disebabkan perilaku merokok,” katanya.
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, menunjukkan bahwa prevalensi perokok aktif di Indonesia mencapai 63,1 juta orang, dengan 7,4 persen diantaranya adalah kelompok usia 10 – 18 tahun, yang mayoritas adalah anak-anak dan remaja.
“Survei Kesehatan Indonesia, 7,4 persen perokok anak, tapi secara absolut itu jumlah perokok anak meningkat 5,9 juta orang,” kata Benget Saragih.
Selain itu, tercatat perokok pemula semakin muda usianya. Pada data 2023, tercatat terdapat 2,6 persen perokok anak berusia 4-9 tahun, 44,7 persen perokok anak usia 10-14 tahun, dan 52,8 persen perokok anak usia 15-19 tahun.
