Son Heung-min, Pemain Tottenham Hotspur.
LONDON – Tottenham Hotspur menatap final Liga Europa kontra Manchester United dengan percaya diri. Spurs punya modal catatan pertemuan. Laga itu berlangsung di San Mames, Kamis (22/5) dini hari WIB. Kedua tim mencari penebusan atas musim buruk, setelah sama-sama dipastikan finis di luar 10 besar Premier League.
Pemain Spurs Son Heung-min memperingatkan MU. Usai berkali-kali jadi runner-up, Son sangat berambisi mengakhiri puasa gelar juaranya di final Liga Europa.
Duel nanti menandai final ketiga Son Heung-min, usai kandas di final Carabao Cup 2020-21 (dikalahkan Manchester City 0-1), dan final Liga Champions 2018-19 (dikalahkan Liverpool 0-2). Son siap tampil mati-matian melawan MU demi memenangi medali juara pertamanya bersama Spurs.
” Kami sudah membicarakan hal ini selama bertahun-tahun. Alasan terbesarku bertahan di Tottenham adalah karena saya ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa dicapai orang lain. Mungkin itulah sebabnya saya berada di sini sekarang. Anda kan butuh semua bagian untuk melengkapi sebuah teka-teki. Saya rasa sudah mengumpulkan seluruh bagian untuk membuat teka-teki itu lengkap,” cetus superstar sepakbola Korea ini kepada the Guardian.
Ia menyebutkan laga nanti punya makna tersendiri. “Setiap pertandingan itu istimewa dan berarti, tapi pertandingan ini (melawan United) terasa seperti sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan kembali. Rasanya beda kali ini. Saya sangat ingin juara, lebih dari siapa pun. Jika kami mempersiapkan diri dengan baik, saya percaya kami bisa mencapainya,” kata Son Heung-min.
Sementara itu, Ange Postecoglou menyadari sukses tidaknya ia sebagai manajer Tottenham Hotspur akan ditentukan dari trofi yang ia raih, terlepas dari proses jatuh bangun yang ia lakukan di balik itu semua. Kini ia memiliki kans untuk menuntaskannya.
Perjalanan Spurs di musim ini memang bak anomali. Mereka babak belur di Liga Inggris dengan menempati urutan 17 klasemen sementara dengan 38 poin dan menelan 20 kekalahan. Kondisi ini membuat posisi Postecoglou dalam tekanan dan terus dirumorkan akan dipecat.
Kini Spurs berpeluang memutus dahaga juara sejak 2008. “Sebagian adalah masalah psikologis, namun tak semua karena kalian tak bisa mengabaikan fakta saya harus mengubah banyak hal di internal klub dalam hal gaya main dan juga skuad. Saya tak mengambil alih tim yang berada di posisi ketiga dan selalu konsisten di posisi itu. Sebelum saya mengambil alih, kami berada di posisi kedelapan. Kami bahkan tidak tampil di kompetisi Eropa. Kami harus melakukan banyak hal lain. Kami telah melakukan banyak tugas besar dalam dua tahun terakhir. Kami telah merekrut banyak pemain muda dengan pemikiran yang tepat untuk masa depan,” ujarnya.
Postecoglou mengibaratkan situasi timnya saat ini seperti proses konklaf untuk mencari Paus baru, yang akan diketahui ketika asap putih keluar dari cerobong asap Kapel Sistina, Vatikan. “Saya bisa saja duduk di sini di posisi kelima tahun lalu dan tetap kelima tahun ini, mungkin orang-orang tak akan menunggu asap putih untuk melihat apakah itu musim terakhir saya, tetapi mereka tetap akan berkata ‘Anda tahu Ange, dia hebat tetapi tak berbeda dengan sebelumnya. Sampai klub ini juara, Anda belum memberi dampak. Saya sudah tahu sepanjang masa jabatan saya tahun lalu, itulah yang akan dinilai dari saya jadi sekarang kami punya kesempatan untuk melakukannya,” tegas Postecoglou.***
