Foto: Ilustrasi
JAKARTA(LB) — Minum kopi kini tak hanya sekadar rutinitas, namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Namun di balik popularitasnya, kandungan dalam secangkir kopi terutama yang telah ditambahkan gula, sirup maupun creamer perlu mendapatkan perhatian serius.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr Sony Wibisono, menjelaskan bahwa konsumsi kopi pada dasarnya dapat memberikan manfaat kesehatan, asalkan dalam kondisi dan takaran yang tepat.
“Kopi murni sebenarnya mengandung banyak zat yang bermanfaat, seperti kafein dan asam klorogenat. Jika dikonsumsi dalam batas wajar, bisa membantu mengurangi peradangan, memperbaiki metabolisme gula dan lemak, serta menurunkan risiko penyakit Parkinson dan Alzheimer,” kata dr Sony dalam keterangan tertulis dikutip pada Rabu (30/4).
Namun, dr Sony mengingatkan bahwa saat ini banyak kopi yang dikonsumsi masyarakat justru mengandung lebih banyak gula dan susu dibandingkan kopinya sendiri. Hal ini berisiko menambah asupan kalori harian yang signifikan.
“Terutama kopi kemasan atau kopi kade yang sudah dicampur berbagai bahan tambahan. Kalau dikonsumsi terus-menerus bisa berdampak buruk pada kesehatan,” kata dia.
Ia mengatakan, tidak semua orang cocok mengonsumsi kopi. Beberapa kelompok seperti ibu hamil, penderita hipertensi, epilepsi, dan penderita gangguan irama jantung lebih baik menghindarinya.
“Adapun untuk orang sehat, anjuran konsumsi maksimal adalah 400 mg kafein per hari, atau sekitar tiga cangkir kopi,” ujar dr Sony.
Dia menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi kopi dalam bentuk yang alami dan tanpa tambahan gula atau sirup. “Misalnya menyeduh kopi dengan metode tubruk, atau memesan espresso dan americano tanpa gula. Dengan begitu tubuh bisa mendapatkan manfaatnya tanpa risiko kesehatan tambahan,” kata dia.ans
Banyak Usia Muda Alami Sakit Jantung, Ini Biang Keroknya
Penyakit jantung selama ini sering dikaitkan dengan lanjut usia (lansia), risikonya meningkat seiring bertambahnya umur. Namun, kini penyakit jantung juga mulai banyak menyerang usia muda.
Menurut spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, dr Budi Rahmat, SpBTKV, SubspJPK(K) dari Siloam Hospital Lippo Village, ada beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran usia terkait masalah jantung.
“Generasi makin kemari itu berbeda dari sisi lingkungannya, dadi sisi udara, aktivitas, makanan. Contoh sederhana adalah makanan, banyak fast food, kedua aktivitas yang kurang karena banyak main gadget, sehingga mobilitas berkurang,” kata dr Budi kepada wartawan baru baru ini.
“Fungsi jantung berkurang, akibatnya tubuh rentan terhadap aktivitas fisik yang berat. Mereka tidak terbiasa dengan olahraga,” sambungnya.
Kondisi ini, menurut dr Budi seharusnya menjadi perhatian para generasi muda. Pasalnya, jantung bisa saja tidak siap ketika diajak untuk melakukan kerja berat yang tidak seperti biasanya.
“Kalau dia terbiasa banyak duduk, banyak main gadget, tiba-tiba diajak berlari, nah itu biasanya bisa kolaps,” katanya.
Oleh karena itu, dr Budi mengimbau anak-anak muda untuk menghilangkan gaya hidup sedentary atau malas-malasan. Ia menyarankan generasi mudah untuk memperbanyak aktivitas fisik.
“Jadi itulah kita pentingnya mengedukasi anak-anak muda sekarang untuk meminimalisir, bermain gadget. Lebih banyaklah bersosialisasi, beraktivitas di alam terbuka, aktivitas yang memanfaatkan otot-otot tubuh,” tutupnya.
