Keberadaan tumpukan sampah liar yang berada di sejumlah titik di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus dikeluhkan warga.
NGAMPRAH (LB)- Keberadaan tumpukan sampah liar yang berada di sejumlah titik di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus dikeluhkan warga.
Pasalnya, polusi udara berupa bau busuk yang menyengat hingga ke permukiman membuat warga tidak nyaman. Bahkan, warga khawatir dengan ancaman penyakit dari tumpukan sampah yang kian menggunung tersebut.
Diketahui, dua titik di kawasan Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong mendadak jadi TPS liar, yakni di Tanjakan Endog RW09 dan RW08, tepatnya di jalan terusan menuju Kampung Lembur Tengah, Desa Sariwangi.
Salah seorang warga terdampak Edo (36) mengaku, keberadaan tumpukan sampah di wilayahnya sangat mengganggu para warga.
“Warga sekitar banyak yang ngeluh dari bau sampah yang menyengat. Apalagi saat pembakaran, takutnya merembet ke rumah-rumah warga yang lokasinya gak jauh dari lokasi tumpukan sampah itu,” kata Edo, Senin (28/4).
Menurutnya, warga sempat komplain ke pihak Desa Sariwangi. Namun, respons yang diberikan terkesan berbelit-belit. Tak cuma itu, pihaknya diminta untuk mengurus surat aduan ke Pemerintah Desa Ciwaruga, meskipun lokasi TPS berada di wilayah Sariwangi.
“Alasan mereka (Pemerintah Desa Sariwangi) karena kita beda wilayah, jadi takutnya RW dikira ngada-ngada. Biar percaya, kepala desa Sariwangi minta surat komplain dari komplek ke Desa Ciwaruga,” tuturnya.
“Makanya warga di sini sering ngeluh, apalagi kalau hujan. Sampahnya mengalir ke jalan juga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Cicih (49) yang rumahnya tepat berada di belakang TPS liar di Tanjakan Endog. Dia mengaku, bau tak sedap sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lantaran pengangkutan sampah sangat jarang dilakukan.
“Jarang sekali ada pengangkutan sampah ini. Di sini aja udah lama banget jadi tempat pembuangan. Diangkutnya jarang, terus gak lama udah menumpuk lagi,” kata Cicih.
Kemudian, sambung Edo, usai surat dari Desa Ciwaruga dikirim ke pihak Desa Sariwangi, barulah ada tindakan. Kepala desa turun langsung untuk mengangkut sampah.
Kendati demikian, pihaknya pun menyayangkan penumpukan sampah kembali terjadi.
“Sekarang numpuk lagi. Pengangkutannya antara seminggu sekali atau dua minggu sekali. Tapi karena ini di pinggir jalan, apalagi tanjakan, jadi orang yang lewat suka buang sampah di situ karena lihat udah ada tumpukan,” bebernya.
Edo mengakui, pihaknya tak pernah mendapatkan pemberitahuan terkait keberadaan TPS liar tersebut. Bahkan pembicaraan antarwarga dengan pihak terkait pun nihil.
Menurutnya, hal yang lebih memprihatinkan lagi di dekat rumahnya terdapat mata air. Sehingga, ketika hujan turun air yang mengalir kerap membawa serta sampah ke saluran air.
“Emang (sampah) jarang masuk air, cuma kalau hujan itu pasti sampah ikut terbawa,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi ini membuat jalan di tanjakan sering dipenuhi sampah yang terbawa air hujan.
“Sampai kadang-kadang ke jalan. Ini sampah emang gak tahu siapa yang urus. Sekarang udah numpuk lagi,” tandasnya. *
