Realisasi Investasi Tahun 2025 Rp1.931,2 T

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani.

JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan realisasi investasi tahun 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, melampaui target sebesar Rp1.905,6 triliun, tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian ini menyerap 2,71 juta tenaga kerja Indonesia atau naik 10,4 persen year on year (yoy). “Seluruh capaian ini kami raih dengan tetap menjaga pengelolaan keuangan dan aset negara secara akuntabel dan juga transparan,” kata Rosan dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, di Jakarta, Rabu (15/7).

Separuh investasi berasal dari dalam negeri atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 53,4 persen atau sebesar Rp1.030,3 triliun, dan Penanaman Modal Asing (PMA) 46,6 persen atau Rp900,9 triliun. Investasi tersebut mengalir ke luar Jawa sebesar 51,3 persen atau Rp991,2 triliun melampaui Pulau Jawa yang hanya Rp940 triliun.

Secara rinci, lima besar lokasi realisasi PMA dan PMDN ialah Jawa Barat Rp296,8 triliun, Jakarta Rp270,9 triliun, Jawa Timur Rp145,1 triliun, Banten Rp130,2 triliun, dan Sulawesi Tengah Rp127,2 triliun.

Adapun lima besar subsektor realisasi sepanjang tahun lalu ialah bidang industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatan sebesar Rp262 triliun; transportasi, pergudangan dan telekomunikasi Rp211 triliun, pertambangan Rp199,6 triliun, jasa lainnya Rp170,5 triliun; hingga perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp140,4 triliun.

“Sejalan dengan mandat kami, hilirisasi menjadi salah satu pendorong utamanya. Realisasi investasi hilirisasi tahun 2025 mencapai Rp584,1 triliun tumbuh 43,3 persen dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional. Sebanyak 71,1 persen di antaranya yang berada di luar Jawa. Ini wujud nyata upaya menciptakan nilai tambah di dalam negeri sekaligus mendorong pemerataan,” ujar Rosan.

Tercatat, hilirisasi mineral sebesar Rp373,1 triliun dengan komoditas nikel Rp185,2 triliun, tembaga Rp65,8 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, dan lainnya (pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal buton) Rp18,5 triliun.

Selanjutnya, yaitu hilirisasi perkebunan dan kehutanan dengan total Rp144,5 triliun yang terdiri dari kelapa sawit Rp62,8 triliun, kayu log Rp62,2 triliun, karet Rp12,9 triliun, dan lainnya (pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel) sebesar Rp6,6 triliun.

Kemudian, hilirisasi minyak dan gas bumi sebesar Rp60 triliun yang terdiri dari minyak bumi Rp41,7 triliun dan gas bumi Rp18,3 triliun. Terakhir ialah hilirisasi perikanan dan kelautan dengan total Rp6,4 triliun yang mencakup garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, hingga tilapia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *