Selebrasi Julian Alvarez dan pemain Argentina usai mencetak gol ke gawang Swiss.
KANSAS – Argentina menembus babak semifinal Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Swiss 3-1. Selanjutnya Argentina akan melawan Inggris yang berlangsung Kamis (16/7) pukul 02.00 WIB.
Dalam laga babak perempat final di Arrowhead, Kansas, Minggu (12/7) pagi WIB Argentina membuka keunggulan lewat Alexis Mac Allister di babak pertama. Swiss sempat menyamakan kedudukan melalui Dan Ndoye di babak kedua.
Karena skor 1-1 bertahan hingga waktu normal, laga pun dilanjutkan ke babak tambahan. Di sinilah mental juara Argentina diperlihatkan dengan menambah dua gol lewat Julian Alvarez dan Lautaro Martinez.
Swiss harus bermain dengan 10 orang setelah Breel Embolo menerima kartu kuning kedua akibat diving pada menit ke-72.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui Swiss menyulitkan tim asuhannya. “Kenyataannya kami kesulitan. Kami tahu mereka tim yang sangat mengandalkan fisik. Saya pikir mereka menempatkan kami dalam kesulitan,” kata Scaloni dalam laman FIFA.
Scaloni menilai keberhasilan Argentina mengalahkan Swiss dan melaju ke semifinal tak terlepas dari keberuntungan dan Lionel Messi serta kolega harus bisa memperbaiki permainan mereka ketika menghadapi Inggris.
“Kami tidak mampu keluar dari situasi-situasi tertentu. Sebenarnya, keberuntungan berpihak pada kami karena lawan kehilangan satu pemain akibat kartu merah. Sejak saat itu, tim mulai melancarkan serangan. Kami harus realistis; ada hal-hal yang perlu diperbaiki, namun meraih kemenangan tentu selalu lebih baik,” kata Scaloni.
Dari tiga laga fase gugur, Tim Tango harus memeras keringat sampai babak extra time. Sebenarnya Argentina mengawali turnamen dengan sangat meyakinkan.
Scaloni menegaskan pengalaman timnya saat menjuarai Piala Dunia 2022, telah membantu para pemainnya menghadapi momen-momen sulit tersebut.
“Di Qatar, kami belum begitu berpengalaman, termasuk saya sendiri, dan situasi-situasi seperti itu sangatlah sulit. Namun, kini kami lebih berpengalaman karena kami tahu rasanya didominasi lawan dan kebobolan gol penyeimbang, jadi kami tetap tenang. Tim tahu cara menjaga ketenangan dan, tentu saja, kami tidak akan pernah menyerah,” ujarnya.
Alvarez tampil gemilang di laga. Ia tak kenal lelah mengejar bola dan mengganggu konsentrasi lawan. Tembakan akuratnya pada menit ke-112 menyasar di pojok kanan atas gawang tak sanggup dijangkau kiper Gregor Kobel.
Performa impresif tersebut menjadikan pemain Atletico Madrid itu pantas menyandang status Pemain Terbaik di laga tersebut.
Berdasarkan catatan Fotmob, Alvarez membukukan rata-rata umpan akurat 88 persen (37 sukses dari 42 percobaan). Ia juga menorehkan persentase umpan silang dan lambung sebesar 100 persen.
Selain tajam di lini depan, ia turut berkontribusi di sektor pertahanan dengan catatan dua tekel serta satu sapuan bersih.
Ia menyebutkan laga berlangsung sulit dan menguras energi. “Laga sangat ketat. Namun yang terpenting menang, saya sangat senang,” ungkap Alvarez dikutip dari laman FIFA.
Sementara pelatih Timnas Swiss, Murat Yakin, menggambarkan aturan di balik kartu merah Breel Embolo sebagai hal yang tidak dapat diterima.
Keputusan wasit Joao Pedro Silva Pinheiro untuk memberikan kartu kuning kedua kepada Embolo setelah meninjau tayangan ulang melalui VAR menjadi pemicu utama kekesalan sang pelatih.
Sebelumnya, wasit sempat mengarahkan kartu kepada Leandro Paredes, tetapi setelah melihat VAR, keputusan tersebut dibatalkan dan kartu kuning diberikan kepada Embolo yang dinilai melakukan diving. “Jelas tidak ada alasan untuk memberikan kartu kuning,” kata Yakin dikutip dari Reuters.
Meski harus terhenti, Yakin tetap memuji dedikasi anak asuhnya. Ia menilai Swiss mampu mendominasi jalannya laga sebelum keputusan wasit mengubah alur pertandingan yang krusial bagi kedua tim tersebut, sama seperti tim-tim besar lainnya seperti Spanyol yang juga berjuang di turnamen ini.
“Saya ingin memuji seluruh tim karena kami berhasil bangkit dari ketertinggalan satu gol melawan juara dunia dan kami memiliki momentum. Kami mendominasi dan mengendalikan pertandingan, lalu kami dihukum karena aturan yang tidak dapat diterima. Saya tidak mengerti. Para pemain saya adalah pahlawan sejati,” tandasnya.***
