Refleksi Malam Purnama : Ws. Chandra Setiawan Tekankan Pentingnya Pembinaan Diri Sebagai Pangkal Kedamaian Dunia 

Para umat peserta kebaktian berfoto bersama.

JAKARTA (LB)–Malam Purnama bukan sekedar penanda pergantian waktu dalam kalender, lebih dari itu, Malam Purnama merupakan momen untuk berhenti sejenak dalam kesibukan. Dalam penanggalan Kalender Kongzili, setiap tanggal 1 (Chu Yi) dan 15 (Shi Wu) merupakan hari sembahyang yang memiliki makna penting bagi umat Khonghucu.

                Tanggal 1 menandai awal bulan baru sebagai momentum untuk memulai perjalanan dengan hati yang bersih dan tekad yang lurus, sedangkan tanggal 15 atau Malam Purnama menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi, introspeksi, dan evaluasi diri atas perjalanan yang telah dilalui.

                MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) bersama MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Jakarta Barat rutin menyelenggarakan Kebaktian Malam Purnama setiap tanggal 15 (Shi Wu) Kalender Kongzili, di Gedung Khonghucu, Yayasan Tepasalira, Jakarta Utara.

                Kebaktian dimulai dengan persembahyangan yang dipimpin oleh Dq. Suwandi, didampingi oleh Dq. Billy dan Dq. Tjai Liong, serta dihadiri oleh umat Khonghucu MAKIN Cimanggis, DKI Jakarta dan sekitarnya, dilanjutkan dengan Jiangdao (khutbah) oleh Wakil Ketua Umum MATAKIN Bidang Pendidikan dan Luar Negeri Ws. Prof. Dr. Drs. Ws. Chandra Setiawan, M.M., Ph. D.

Pimpinan prosesi persembahyangan.

                Mengutip isi ayat Kitab Si Shu pada Zhong Yong Bab Utama : 4, “Gembira, marah, sedih, senang, sebelum timbul dinamai Tengah, setelah timbul tetapi masih tetap di dalam batas Tengah, dinamai Harmonis. Tengah itulah Pokok besar daripada Dunia dan Keharmonisan itulah cara menempuh Jalan Suci di Dunia”, Ws. Chandra Setiawan menekankan bahwa Harmoni adalah jalan universal di dunia. Harmoni bukan sekadar keadaan tanpa konflik, melainkan keseimbangan yang tercipta ketika manusia mampu menyelaraskan pikiran, perasaan, dan tindakannya sesuai dengan Firman Tian.

                “Bagaimana Agama Khonghucu mengajarkan kita untuk menjaga Harmoni Dunia, menjaga perdamaian Bangsa? Semua itu dimulai dari diri sendiri sebagai fondasi, jika diri sendiri telah terbina maka keluarga akan harmonis, keluarga yang harmonis akan mendatangkan kedamaian Dunia. Pembinaan diri dimulai dari kesadaran batin akan pentingnya menyelaraskan perkataan dan perbuatan, jika sudah selaras demikian diibaratkan seperti orang membenci bau busuk dan mencintai keindahan artinya alamiah, tanpa paksaan dan spontan kedamaian Dunia akan tercipta dengan sendirinya karena itulah dari Raja hingga Rakyat Jelata harus melakukan hal yang sama yaitu Pembinaan Diri,” jelas Ws. Chandra.

                Menurut Ws. Chandra, seseorang yang mampu membina karakter, menjaga hati, dan mengembangkan kebajikan akan menjadi sumber keharmonisan bagi lingkungan di sekitarnya. Kemudian memaparkan ayat dari Mengzi Jilid IV A : 11 ; 2 “Bila tiap – tiap orang dapat mencintai orang tuanya, menghormati yang lebih tua niscaya dunia akan damai”.

Menekankan bahwa cinta kasih dan rasa hormat merupakan fondasi utama dalam membangun perdamaian. Keharmonisan dalam keluarga, penghormatan kepada orang tua, serta sikap saling menghargai antarsesama menjadi titik awal terciptanya kehidupan masyarakat yang tenteram. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi melalui perilaku yang dilandasi kasih dan kebajikan.  

Dalam kesempatan tersebut, Ws. Chandra Setiawan juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan emosi dan tindakan sebagaimana diajarkan dalam Zhong Yong Bab Utama : 4. Setiap individu diajak untuk mampu mengendalikan diri, bersikap bijaksana, dan menghargai keberagaman sebagai bagian dari harmoni universal. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berpecah belah, melainkan menjadi kekayaan yang saling melengkapi dalam kehidupan bermasyarakat.

                Mengakhiri khotbahnya, Ws. Chandra Setiawan mengajak seluruh umat agar tidak berhenti pada pemahaman ajaran semata, tetapi menghidupkan nilai-nilai Khonghucu melalui tindakan nyata. Ketulusan dalam menjalankan ajaran, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan komunitas, diyakini akan menjadi fondasi bagi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan di tengah masyarakat maupun dunia. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *