Menteri PPPA Hj.Arifatul Choiri Fauzi dan Ketum MATAKIN Xs Budi S Tanuwibowo.
JAKARTA (LB)–Menteri PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Hj.Arifatul Choiri Fauzi, belum lama ini, melakukan kunjungan kerja ke Kantor MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), di Jakarta. Kunjungan ini membahas keprihatinan kondisi perempuan dan anak yang saat ini “tidak baik-baik saja”, serta persiapan peringatan HAN (Hari Anak Nasional) 23 Juli 2026.
Dalam pertemuan, Menteri menyampaikan data dan laporan dari lapangan yang menunjukkan masih tingginya kasus kekerasan, eksploitasi, dan kurangnya perlindungan terhadap perempuan dan anak.
“Kondisi perempuan dan anak kita sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan hanya tugas negara, tapi tanggung jawab moral seluruh elemen bangsa, termasuk lembaga keagamaan,” tegas Menteri.
Ada tiga poin dari hasil kunjungan ini yaitu: (1) HAN 2026 dan Tema Nasional. Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini jatuh pada 23 Juli 2026 dengan tema resmi: “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema ini mengajak semua pihak memastikan anak tumbuh aman, sehat, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan.

(2) Pencanangan Program BERLIAN. Awal Juli 2026, Kementerian PPPA akan mencanangkan Gerakan Nasional BERLIAN = Bersama Lindungi Anak. Gerakan ini mengajak keluarga, masyarakat, sekolah, dan lembaga keagamaan jadi garda terdepan pelaporan dan pencegahan kekerasan pada anak.
(3) Seruan ke Umat Beragama. Menteri secara khusus meminta dukungan MATAKIN agar seluruh Majelis Agama Konghucu dan rohaniwan menyampaikan khotbah/ceramah bertema perlindungan anak di rumah ibadah.
“Rumah ibadah adalah tempat paling strategis menanamkan nilai Xiao, cinta kasih, dan hormat pada martabat anak. Mari jadikan mimbar sebagai ruang edukasi perlindungan anak,” pinta Menteri Hj.Arifatul Choiri Fauzi.

Ketua Umum MATAKIN Xs Budi Santoso Tanuwibowo menyambut baik arahan tersebut. Dia menegaskan ajaran Khonghucu sangat menekankan Xiao/Bakti dan Ren/Cinta Kasih sebagai fondasi perlindungan.
“Anak adalah titipan Tian. Melukai anak berarti melukai peradaban. MATAKIN siap menggerakkan seluruh MAKIN di Indonesia untuk menyuarakan BERLIAN lewat khotbah/Jiangdao dan pembinaan keluarga,” ujarnya.
Budi kemudian menyampaikan tindak lanjut MATAKIN yaitu (1) mengedarkan surat edaran ke seluruh MAKIN agar memasukkan tema “Perlindungan Anak” dalam khotbah/Jiang Dao Juli 2026.
(2) menyusun materi khotbah panduan tentang Xiao, anti-kekerasan, dan pengasuhan positif sesuai ajaran Nabi Kongzi. (3) mendukung sosialisasi BERLIAN ke umat.
Kunjungan ditutup dengan diskusi dan penyerahan cendera mata serta foto bersama. MATAKIN dan Kementerian PPPA sepakat memperkuat sinergi demi mewujudkan Indonesia yang ramah anak. **
