Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menegaskan komitmen Pemkot Bogor untuk terus menuntaskan persoalan sampah melalui pengembangan fasilitas Pengolahan Sampah.
BOGOR (LB)- Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menegaskan komitmen Pemkot Bogor untuk terus menuntaskan persoalan sampah melalui pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Bogor Raya.
Ia menuturkan untuk langkah terbaru adalah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) PSEL a pemerintah daerah dan Danantara Senin (11/5).
“Bahwa kerja sama ini menjadi langkah lanjutan Pemkot Bogor dalam mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern yang terintegrasi di kawasan Bogor Raya,” ungkap Dedie di Balai Kota Bogor pada Selasa (12/5).
Dedie menerangkan, saat ini proyek Bogor Raya 1 di kawasan Galuga telah selesai tahap persiapan dan siap memasuki proses groundbreaking, sementara pengembangan Bogor Raya 2 direncanakan berada di kawasan Kayumanis.
“Ya, ini langkah dari kami untuk menuntaskan permasalahan sampah di wilayah Bogor, khususnya Kota Bogor. Yang pertama kan sudah selesai dan siap untuk dilaksanakan groundbreaking untuk Bogor Raya 1 di Galuga, dan yang kedua ini Bogor Raya 2 di Kayumanis,” tutur Dedie.
Dedie menjelaskan, keberadaan dua fasilitas pengolahan sampah tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan peningkatan volume sampah di Kota Bogor di masa mendatang. Bahwa timbulan sampah di Kota Bogor mencapai sekitar 1.000 ton per hari dan diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas masyarakat dan perkembangan wilayah perkotaan.
“Dengan timbulan sampah Kota Bogor sekitar 1.000 ton per hari, maka dengan dua PSEL ini bisa selesai dan tuntas. Sebab timbulan sampah masa depan itu pasti akan bertambah banyak, bukan berkurang,” jelasnya.
Dedie menambahkan, bahwa pembangunan fasilitas PSEL merupakan bagian penting dalam menjaga kebersihan kota sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif dan berkelanjutan. Bahwa pengelolaan sampah tetap membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya dalam pemilahan sampah dari rumah tangga serta penguatan pengelolaan berbasis masyarakat melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan bank sampah.
“PSEL dapat mengolah sampah campuran dalam kapasitas besar, namun pemilahan jenis sampah yang masih bernilai ekonomi justru memperkuat potensi peningkatan peran bank sampah dan TPS3R yang selama ini menjadi mitra strategis Pemkot,” terangnya.
Dedie juga mengatakan, persoalan utama sampah saat ini masih didominasi oleh sampah rumah tangga yang mencapai sekitar 55 persen, termasuk residu seperti popok bayi, pembalut, serta sampah plastik bernilai ekonomi rendah seperti sachet dan bungkus mie instan.
“Dengan adanya dua lokasi ini, maka harapan Kota Bogor untuk terus mempertahankan kebersihan akan lebih mudah tercapai. Tetapi dengan catatan bahwa TPS3R, bank sampah dan pemilahan sampah dari rumah itu tetap harus dilaksanakan agar pemanfaatannya lebih efektif dan efisien,” pungkasnya. *
