Virgil van Dijk, Pemain Liverpool.
LONDON – Liverpool mengakui start buruk di markas Manchester United (MU) menjadi pemicu kekalahan. Liverpool kalah 2-3 di Old Trafford, Minggu (3/5) lalu.
Virgil van Dijk dan kolega sudah ketinggalan 0-2 dalam 14 menit pertama setelah dibobol Matheus Cunha dan Benjamin Sesko. Kelengahan pertahanan dari situasi sepak pojok dan umpan silang menghukum Liverpool. Van Dijk tak menampik timnya kurang konsentrasi dan tak siap dengan start cepat lawan.
“Pastinya ini sangat mengecewakan karena menurut saya kami kebobolan dua gol yang tak semestinya masuk di awal laga. Di babak kedua, kami bangkit dengan mentalitas besar untuk menyamakan 2-2. Dan di momen lain, kami bisa melukai mereka, tapi kami kebobolan satu gol dan itu sangat menyedihkan. Sebab kami tak memulai dengan baik tapi di babak kedua kami start dengan sangat bagus,” kata Van Dijk dikutip BBC.
Liverpool bangkit lagi saat turun minum dan masuk dengan pendekatan lebih berani di babak kedua. Dua gol didapatkan dari Dominik Szoboszlai dan Cody Gakpo, tapi mereka lantas kecolongan oleh Kobbie Maino.
Padahal saat menjadi kampiun Liga Inggris musim lalu, tim asuhan Arne Slot hanya tumbang empat kali. Mereka pun ‘hanya’ kalah sembilan kali di seluruh ajang. Kini, jangankan mempertahankan gelar juara, lolos ke Liga Champions musim depan pun belum tentu.
“Saya di sini bukan untuk mencari alasan. Ini musim yang sangat mengecewakan, musim yang tidak dapat diterima, dan ini sulit. Kami tidak boleh merasa kasihan pada diri sendiri sama sekali. Kami harus bekerja dan membalikkan keadaan ini serta memastikan musim depan hal-hal ini tidak terjadi lagi. Ini bukan Liverpool,” ujar Van Dijk.
Ia pun tidak bisa menerima kondisi timnya yang sering mengalami kekalahan. “Saya pikir tidak dapat diterima bahwa kami terlalu sering kalah sebagai juara bertahan Premier League dan kami tidak boleh menerimanya. Akan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan menjelang musim depan. Ketika saya kembali dari Piala Dunia, saya akan mulai mengerjakannya, tetapi ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan di balik layer,” tuturnya.
Liverpool memang masih duduk di zona Liga Champions, tepatnya posisi empat klasemen Liga Inggris dengan 58 poin, unggul enam poin dari Bournemouth yang ada di urutan enam alias zona Liga Europa.
Namun dengan tiga laga sisa, mereka masih mungkin terpeleset. Van Dijk meminta timnya fokus. “Saya sangat peduli dengan klub ini. Saya tahu bahwa ini musim yang sulit, tetapi saya akan selalu hadir saat periode baik dan kurang baik. Tapi kami masih punya tiga laga sisa dan kesadaran itu harus datang dari kami sendiri, sebagai sebuah tim dan sebagai pemain, untuk memastikan kami berada di Liga Champions karena dampaknya terhadap keuangan klub. Ini tidak mudah. Tapi kami akan terus berjuang,” tutur bek asal Belanda tersebut.
Eks pemain The Reds, Daniel Sturridge menilai Liverpool kehilangan identitas. Dilansir dari Sky Sports, ia khawatir dengan penampilan Szoboszlai dan oklega di musim ini.
“Penampilan mereka mengkhawatirkan, tidak cuma tapi sepanjang musim. Mereka masih terus kebobolan lewat serangan-serangan balik. Tidak ada pemain di lini tengah atau lini serang yang benar-benar menghentikan permainan di area yang lebih tinggi di lapangan. Identitasnya tidak terlihat,” tegasnya.
Sturridge turut menilai, Liverpool di era Arne Slot lebih bermain pada penguasaan bola. Tapi dirinya merasa, hal itu tidak cukup bagus. “Dengan Arne, kita melihat tim berbasis penguasaan bola yang sedikit lebih metodis. Tapi ketika Anda melihat statistik tim tahun ini, statistiknya jauh menurun di semua lini. Penguasaan bola Liverpool saat ini tidak cukup. Mereka masih belum punya identitas. Malah mereka tidak cukup bagus juga dalam situasi satu lawan satu,” tuturnya.***
