Jiang Dao di MAKIN Rawa Kucing-Tangerang, Ketum MATAKIN : Jauhkan Kesombongan dan Merasa Paling Hebat

Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo.

TANGERANG (LB)–Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S. Tanuwibowo menyampaikan pesan penting yaitu agar jangan memelihara kesombongan dan merasa paling hebat.

Budi mengajak umat agar instropeksi dan sadar bahwa keberadaan kita tidak ada artinya dibanding dengan Kebesaran Tuhan.

          Pesan ini disampaikan Ketum MATAKIN dalam Jiang Dao (khotbah) dalam Kebaktian agama Khonghucu di  Kelenteng Tjo Su Bio MAKIN Rawa Kucing, Kota Tangerang, Rabu (26/3/2025).

Umat yang hadir dalam kebaktian agama Khonghucu di Kelenteng Tjo Su Bio.

Beberapa  pengurus dan simpatisan MATAKIN tampak hadir mendampingi, di antaranya Js. Rusya Supit (Wakil Sekretaris bidang Kerohanian MATAKIN), ‘Marleen Wang LDS’ (Wakil Sekretaris Bidang Keorganisasian MATAKIN), Auwjang Phin Kuan dan Abraham Lawalata.

Selain itu hadir juga Ketua Matakin Provinsi Banten, Js. Kengyu, Ketua MAKIN Rawa Kucing dan pengurus MAKIN se Kota Tangerang.

          Kebaktian diawali dengan kidung Wei De Dong Tian dan doa pembuka oleh Js. Liong Tju rohaniwan MAKIN Rawa Kucing, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci oleh Ws. Loekman.

“Ada sebuah kisah tujuh sahabat, enam dari tujuh sahabat itu mencoba mendaki Gunung Salak Bogor dari jalur berbeda, singkat cerita mereka kumpul bersama beberapa hari usai pendakian.  Kembali sifat manusia yang sombong itu muncul; yang satu bilang “saya ternyata di puncak yang paling tinggi”, yang lain bilang “Saya walau di tengah, tapi di tempat yang paling indah’ begitupun yang lainnya berdebat seolah tidak mau kalah, mereka mengulangi kesombongan masing-masing meski antar sahabat,” ungkap Xs Budi mengawali Jiang Dao-nya.

          “Sampai orang ketujuh itu tersenyum dan berkata, kalian bisa bayangkan perbedaan tinggi gunung hanya ratusan meter, sementara alam semesta bermilyar kilometer, dan kita lupa selalu mengagungkan sesuatu yang tidak signifikan hanya demi egonya,” lanjut Budi

          “Hal ini sebagai refleksi bagi kemanusian kita yang sombong dengan pencapaian masing-masing, Inilah kesombongan-kesombongan yang terus dipelihara yang menjadi  sumber petaka antar sama lain tidak bisa rukun dan harmonis,” imbuhnya.

          Seharusnya ketika sampai di puncak kita disadarkan keberadaan kita tidak ada artinya dibandingkan kebesaran Tuhan yang menciptakan kita, Seharusnya dia sadar dan instropeksi ketika manusia di atas, di bawah masih banyak orang yang susah, yang perlu dibantu.

Selain itu Xs. Budi juga menyampaikan bahwa agama dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya dan ia memberi pesan kepada umat Khonghucu untuk tidak mengagungkan agamanya sebagai yang terbaik kalau dri kita masih belum baik dan jauh dari jalan suci.

          “Kita beragama hanya mengagungkan bahwa agama kita yang terbaik, namun kita tidak sadar bahwa yang lebih penting adalah umat yang terbaik tidak peduli agama manapun; agama adalah untuk manusia, bukan manusia untuk agama,” kata Budi.

Ketum MATAKIN dan jajaran berfoto bersama Ketua MATAKIN Provinsi Banten, pengurus, rohaniwan dan umat Khonghucu.

          Budi berharap umat Khonghucu tidak perlu mengagungkan agamanya sebagai yang terbaik kalau diri kita masih belum baik, tapi kalau diri kita telah menjadi manusia yang baik dan punya cinta kasih serta tepasaliro kepada sesama manusia, sejatinya secara tidak langsung kita mengangkat derajat agama kita menjadi yang terbaik” Ujar Budi

          Mengakhiri Jiang Dao nya, Xs. Budi mengajak kita semua naik ke “gunung” dan ketika sudah di atas, mari kita sadari bahwa kita adalah insan yang kecil tak berarti disbanding luasnya alam semesta ini.

          “Kembali ke naik gunung tadi, “Marilah kita mencoba naik gunung dan ketika sudah di atas, kita makin sadar kalau kita insan kecil tak berarti yang mendapat anugerah untuk melihat luasnya semesta dan mari syukurilah anugerah itu” tutup Budi. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *