Pemprov DKI Jakarta Rutin Pantau Harga Pangan untuk Deteksi Anomali

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok.

JAKARTA (LB)- Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengerahkan sekitar 20 petugas yang rutin memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional di Jakarta untuk mendeteksi anomali harga.
“Setiap hari, ada 20 orang enumerator di seluruh Jakarta, mereka akan keliling ke pasar-pasar tradisional untuk memeriksa harga,” kata Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok dalam siniar yang dipantau di Jakarta, Selasa (10/3).
Hasil enumerasi dari petugas itu kemudian diunggah ke dalam sistem informasi info pangan Jakarta (infopangan.jakarta.go.id), yang dapat diakses masyarakat.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga membandingkan harga pangan di Jakarta dengan informasi pangan yang dimiliki oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Perindustrian.
“Kalau terjadi anomali, terlalu tinggi atau terlalu rendah, terkait harga pangan, kita bisa periksa silang ke lapangan,” ujar Hasudungan.
Dia menyampaikan upaya-upaya tersebut merupakan bagian dari sistem peringatan dini (early warning system) yang dapat menjadi rujukan untuk mencari penyebab dan solusi, termasuk menentukan langkah koordinasi selanjutnya. Terkait harga pangan, Hasudungan mengingatkan Jakarta hanya dapat memenuhi dua persen kebutuhan pangan dan sisanya berasal dari daerah lain. Karena ketergantungan yang cukup tinggi, maka rentan terjadi fluktuasi ketersediaan dan harga pangan di ibu kota.
Di samping itu, suplai pangan juga sangat bergantung pada cuaca. Apabila ketersediaan di daerah produsen berkurang, misalnya karena cuaca, maka asupan suplai ke Jakarta juga akan berkurang.
Hal lainnya, kata dia, yakni terkait biaya transportasi. Semakin jauh daerah produsen pangan ke Jakarta, maka biaya transportasi juga semakin tinggi, dan ini memengaruhi harga beli atau harga jual di masyarakat Jakarta.
Oleh karena itu, Pemprov DKI melalui BUMD pangan bekerja sama dengan daerah-daerah pemasok melalui pertanian kontrak (contract farming) untuk menjamin pasokan pangan sekaligus menstabilkan harga,
“Dengan adanya kerja sama tersebut, jalurnya bisa lebih singkat. Jadi, tidak melalui agen lagi. Otomatis harganya lebih murah dan tersedianya juga lebih cepat,” ungkap Hasudungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *