Atalanta Selamatkan Muka Sepakbola Italia di Liga Champions

Sukacita pemain Atalanta usai Davide Zappacosta mencetak gol ke gawang Borussia Dortmund.

BERGAMO – Atalanta menyelamatkan muka sepakbola Italia di Liga Champions. La Dea jadi satu-satunya wakil tersisa di babak 16 besar.

Sepakbola Italia menyambut leg kedua play-off 16 besar Liga Champions, Kamis (26/2) dini hari WIB dengan prediksi terburuk. Sebab setelah Napoli terhenti di fase liga, Inter Milan juga tersingkir pada Rabu (25/2) dini hari WIB.

Inter kalah agregat 2-5 dari klub Norwegia Bodo/Glimt. Kalah 1-3 di leg pertama, Nerazzurri gagal comeback dan kalah lagi 1-2 pada leg kedua.

Itu berarti nasib Italia ada di tangan Atalanta dan Juventus. Sialnya, keduanya juga menuju leg kedua dengan posisi tertinggal: Atalanta kalah 0-2 dari Borussia Dortmund pada leg pertama sedang Juve takluk 2-5 dari Galatasaray.

Namun Atalanta menunjukkan mereka belum habis dan menang 4-1, dalam laga yang diwarnai tiga kartu merah. Mereka pun comeback dan lolos berbekal agregat 4-3.

Tapi langkah itu tak bisa diikuti Juventus. Walau sempat secara heroik menyamakan agregat 5-5 dengan 10 orang, Juve gagal mencegah dua gol Galatasaray di extra time dan kalah agregat 5-7.

Empat gol Atalanta dicetak Gianluca Scamacca (5), Davide Zappacosta (45, Mario Pasalic (57). Mario Pasalic dan Lazar Samardzic. Gol Dortmund dicetak Karim Adeyemi (75).

Pelatih Atalanta Raffale Palladino mengaku senang dengan keberhasilan timnya. “Ini adalah laga yang akan tercatat dalam sejarah, bukan hanya buat para penggemar Atalata di Bergamo sini, tapi buat sepakbola Italia. Kami berhasil melakukan comeback yang akan tetap tercatat dalam buku sejarah. Kami sangat bahagia, saya ingin berterima kasih kepada setiap pemain, mereka yang berada di lapangan, di bangku cadangan, di tribun, staf saya, Presiden Antonio Percassi, para direktur, dan semua penggemar,” kata Palladino kepada Sky Sport Italia.

Ia mengaku ini merupakan laga terbaik dalam kepelatihannya. “Ini mungkin pertandingan terbaik yang pernah saya alami dalam karier kepelatihan saya, dan akan tetap terpatri dalam ingatan saya selamanya,”  ujarnya.

Ia menambahkan seluruh anggota tim menikmati momen yang indah ini. “Sekarang kita harus menikmati momen ini. Malam-malam seperti ini memberikan kepercayaan diri, keyakinan dan kegembiraan-sesuatu yang hampir tak terbayangkan. Kami akan memikirkan tantangan berikutnya nanti, tetapi untuk saat ini, mari kita rayakan malam yang istimewa ini,” kata Palladino.

Gelandang sekaligus bek Atalanta Nicola Zalewski, begitu terharu karena timnya bisa membalikkan keadaan dari leg 1. ”Kami menunjukkan penampilan luar biasa dalam membuat peluang, cara bermain dan kemampuan berlari,” ujar Zalewski dilansir dari situs UEFA.

Davide Zappacosta, bek Atalanta yang jadi pemain terbaik di pertandingan ini, juga merasa bahwa hasil ini sangat penting dan emosional. ”Menjadi tim tak diunggulkan membuat kami bermotivasi lebih. Kami berusaha melampaui batas untuk mengubah hasil, dan kami mampu melakukannya meski sangat sulit,” ujar Zappacosta.

Sementara pelatih Borussia Dortmund, Niko Kovac, mengungkapkan kekecewaannya karena timnya tidak bermain bagus. “Pada akhirnya, kami tidak bermain bagus. Jika Anda kebobolan empat gol di Liga Champions, itu sulit. Pada saat kami kebobolan, kami tidak sepenuhnya fokus dan melakukan kesalahan. Di Liga Champions, kesalahan-kesalahan ini akan dihukum, dan tentu saja kami sangat kecewa. Itu tidak boleh terjadi. Kami adalah tim Bundesliga, dan kami harus mampu mengatasi ini,”  kata Kovac dilansir dari bulinews.com.

Kapten Dortmund, Emre Can, menyesali timnya membuang-buang peluang emas hingga akhirnya harus menelan kekalahan besar. “Ketika Anda kebobolan empat gol di babak play-off, akan sulit untuk melaju ke fase berikutnya. Kami juga memiliki beberapa peluang emas yang gagal dikonversi menjadi gol. Ini terasa sangat menyakitkan,” kata Can menegaskan di situs resmi UEFA.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *