Menang Tipis, Parma Hentikan Laju Tak Terkalahkan AC Milan 

Laga AC Milan melawan Parma.

MILAN – Parma menghentikan laju tak terkalahkan AC Milan. Bermain di San Siro, Senin (23/2) dini hari WIB, Rossoneri harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 0-1.

Milan gagal memanfaatkan sejumlah peluang yang didapat, termasuk sepakan Rafael Leao yang membentur tiang gawang. Gawang Milan akhirnya bobol oleh gol Mariano Troilo yang sempat dianulir, tapi kemudian disahkan lewat tinjauan VAR.

Hasil ini memutus laju tak terkalahkan Milan di Serie A yang sudah berjalan 24 pertandingan. Setelah kalah di pekan perdana, pasukan Massimiliano Allegri itu kemudian mencatat 15 kemenangan dan sembilan hasil seri.

Pelatih Parma yang baru berusia 30 tahun, Carlos Cuesta, menyebut gol kemenangan timnya adalah sesuatu yang sudah direncanakan. “Tidak mudah untuk tetap fokus selama itu melawan tim sekuat ini, di stadion seperti ini. Mereka memang akan selalu mendominasi penguasaan bola, jadi kami harus tetap terorganisasi dan mentalitas yang ditunjukkan skuad ini sungguh luar biasa,” tutur Cuesta dilansir dari Football Italia.

Kemenangan di kandang Milan menjadi sensasi terbaru Cuesta. Sebelum musim bergulir, eks asisten Mikel Arteta tersebut sudah mengundang perhatian.

Cuesta ditunjuk sebagai pelatih Parma ketika baru berusia 29 tahun. Saat musim 2025-2026 berjalan usianya baru menyentuh kepala tiga, alias 30 tahun. Bahkan, usia Carlos Cuesta 10 tahun lebih muda dari gelandang andalan AC Milan saat ini, Luka Modric yang mentas selama 90 menit dalam duel itu.

Ia mengatakan, pemainnya dilatih untuk mencetak gol dalam situasi bola mati.  “Ketika kami berlatih situasi bola mati, kami mencoba menyiapkan pemain-pemain agar siap mencetak gol,” tutur Cuesta.

Walau  begitu, Cuesta ogah jemawa dan meminta timnya untuk senantiasa waspada. “Pertandingan berubah dengan cepat. Kami adalah tim yang sama. Yang bergantung pada kami adalah kualitas kerja kami, dan kami harus melakukannya lebih sering dan dengan lebih baik,” ucap pelatih Spanyol kelahiran Palma, 29 Juli 1995 ini.

Cuesta juga meminta semua orang mendoakan Ruben Loftus-Cheek yang  harus ditarik keluar di babak pertama karena cedera. Momen itu jelas terlihat mengkhawatirkan bagi semua yang menyaksikan. “Saya ingin bicara tentang Loftus-Cheek terlebih dahulu. Saya harap dia baik-baik saja dan pikiran kami tertuju padanya,” ujar Cuesta.

Mariano Troilo terpilih sebagai man of the match dalam laga itu. Bek Parma itu menjadi pembeda dalam pertandingan sengit itu.  Ia menjebol gawang Mike Maignan pada menit ke-80 melalui sundulan memanfaatkan sepak pojok.

Gol tersebut menjadi yang pertama bagi Troilo untuk Parma. Satu gol itu sekaligus menghadirkan tiga poin penting bagi tim tamu.

Menurut statistik FotMob, Troilo bermain penuh selama 90 menit dan mencetak satu gol dari satu tembakan. Ia mencatat akurasi umpan 30 dari 35 percobaan (86 persen), memiliki expected goals (xG) 0,16, serta membukukan 13 aksi bertahan tanpa menciptakan peluang maupun assist.

Sementara asisten pelatih Milan Marco Landucci mengaku kecewa dengan hasil tersebut. “Kami jelas tidak senang. Parma main bagus banget dan bolanya buat kami tidak mau masuk malam ini. Kami maunya dapat tiga poin, jadi tentu saja kami kecewa, tapi kami akan jalan lagi mulai Selasa,” ujar Landucci kepada Sky Sport Italia.

Dalam laga ini, Milan sudah harus melakukan pergantian pemain pada menit ke-11 menyusul cedera yang dialami Loftus-Cheek. Landucci menyebut Milan tidak dinaungi keberuntungan.

“Saya kira Serie A adalah liga yang paling sulit di dunia, karena sangat seimbang, dan setiap pertandingan ada ancaman tersembunyi. Ada pertandingan yang tidak berjalan sesuai harapan Anda,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *