Mikel Arteta, Manajer Arsenal.
LONDON – Kekalahan dari Manchester United (MU) memunculkan rasa pesimistis terhadap Arsenal. Namun manajer Mikel Arteta menegaskan bahwa timnya tetap berpeluang menjadi juara Liga Inggris musim ini.
Sejauh ini posisi Arsenal di klasemen memang masih relatif aman. Klub asal London Utara itu tetap bertengger di puncak klasemen dengan keunggulan empat poin dari para pesaing terdekatnya. Selain itu, peluang Arsenal di berbagai kompetisi lain juga masih terbuka lebar.
“Respons para pemain setelah pertandingan melawan United sangat bagus. Kami sengaja meluangkan waktu untuk menurunkan ketegangan, berhenti sejenak, lalu merenung,” ujar Arteta dikutip dari laman klub.
Arteta mengaku mengajukan dua pertanyaan mendasar kepada skuadnya. “Pertama, bagaimana perasaan kami saat ini. Kedua, bagaimana kami ingin menjalani empat bulan ke depan,” tuturnya.
Menurut Arteta, jawaban yang muncul justru membuatnya semakin optimistis. Ia menilai para pemain menunjukkan kematangan mental dan keyakinan kuat untuk menuntaskan musim dengan hasil terbaik.
Pelatih asal Spanyol itu juga meminta dukungan penuh dari para pendukung Arsenal. Ia berharap suporter ikut menjaga energi positif demi menghadapi fase krusial musim ini.
“Saya ingin semua yang terhubung dengan klub ini, terutama para pendukung, berjalan bersama kami. Ini cara kami menjalani empat bulan ke depan, dan kami pantas berada di situasi ini,” katanya.
Arteta menambahkan, pertemuan dengan pemain bukan semata reaksi atas kekalahan dari Manchester United. Ia menegaskan bahwa rapat tim rutin digelar setiap tiga hingga empat pekan untuk menjaga keseimbangan antara realitas dan perspektif.
“Kami harus melihat semuanya dengan jelas, baik dari jarak dekat maupun secara menyeluruh. Itu penting agar tidak kehilangan arah. Saya katakan kepada mereka betapa luar biasanya mereka dan betapa bersyukurnya kami bisa bekerja bersama setiap hari. Kami ingin menikmati momen ini dengan keyakinan bahwa gelar juara bisa kami raih. Ini adalah waktu kami, dan kami benar-benar menginginkannya,” tutur Arteta.
Sementara legenda MU Roy Keane menilai Arsenal mulai merasakan tekanan di puncak klasemen. Apalagi Arsenal sudah tidak menang dalam tiga pertandingan terakhirnya di Premier League. Sebelum kalah dari MU, mereka beriamin imbang 0-0 melawan Liverpool dan Nottingham Forest.
Keane menilai Arsenal mulai dihinggapi rasa takut. Ia pun meminta Declan Rice dan kolega agar menghadapi tekanan yang datang. “Tekanan ada di Arsenal. Mereka melihat hasil pertandingan lain; mereka punya segalanya yang menguntungkan mereka di semua kompetisi. Itulah tekanan; mereka meraskan tekanan. Yang paling penting bagaimana mereka mengatasinya. Itulah yang merugikan mereka dalam beberapa tahun terakhir ketika mereka sudah ada di posisi bagus,” ujar Keane seperti dilansir Sky Sports.
Mentalitas Arsenal di persaingan juara kembali dipertanyakan. Baru 22 gol yang bikin pasukan Arteta dari permainan terbuka, yang mana menempatkan mereka di posisi delapan dalam urusan tersebut. Perekrutan Viktor Gyokeres di musim panas lalu ternyata belum cukup memoles ketajaman tim.
Ini yang menurut eks pemain Liverpool Jamie Carragher menjadi probblem Arsenal, bukan mentalitas. Sebab kalangan pendukung Meriam London mulai mempertanyakan mentalitas tim mereka di persaingan juara, seiring kegagalan memenangi tiga partai Liga Inggris terakhir.
“Menurut saya Arsenal tidak kurang kekuatan mental, mereka itu kekurangan kualitas di lini serang. Apakah mereka punya superstar sungguhan di depan? Saya sudah selalu punya perasaan ini selama beberapa tahun terkait Arsenal dan saya merasa itu adalah alasan mereka tidak berhasil memenangi Premier League. Anda memikirkan apa yang Mo Salah lakukan buat Liverpool musim lalu, yang Erling Haaland atau Kevin de Bruyne lakukan di Manchester City. Arsenal kekurangan pemain tipe itu. Saya tidak serta merta berpikir Arsenal telah jauh membaik dalam beberapa tahun terakhir, saya justru berpikir Manchester City dan Liverpool yang mengalami penurunan,” kata Carragher di Sky Sports.
Arsenal dalam tiga musim terakhir cuma bisa menjadi runner-up Premier League. Situasi paling menyakitkan ada di musim 2023/2024 saat cuma kalah dua poin dari Man City yang menjadi juara.***
