Prosesi gunting pita sebagai penanda peresmian.
JAKARTA (LB)–Perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Indonesia bukanlah sebuah garis lurus yang sunyi dari gelombang. Jejak perjalanannya ditempa oleh waktu, keberanian, dan ketahanan batin yang lahir dari berbagai perjuangan.
Sejak awal kedatangannya, orang-orang Tionghoa mengarungi lautan menuju Nusantara dengan impian dan harapan yang sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik.


Di tanah yang baru ini, mereka menanamkan akar kehidupan, serta merawat tradisi turun-temurun, dari adat istiadat, pola pemukiman, sastra, bahasa, kepercayaan, hingga kuliner dan kesenian.
Kehadiran komunitas ini juga menambah warna khas dalam mozaik keberagaman Nusantara. Mereka tidak sekadar menetap, tetapi membawa tradisi yang seiring waktu, bertemu dengan budaya lokal.
Pertemuan ini melahirkan bentuk baru dalam kuliner, seni, bahasa, dan cara hidup, memperkaya lanskap budaya Indonesia serta meninggalkan jejak yang masih terasa hingga kini.

Sejarah yang tercatat juga menyimpan kisah-kisah yang tidak selalu mudah. Komunitas Tionghoa di Indonesia sering dihadapkan pada berbagai keterbatasan, di mana identitas dipertanyakan, bahasa dan budaya dibatasi, dan hidup dijalani dengan penuh kehati-hatian demi tetap aman dan diterima.
Meski begitu, komunitas ini terus bertumbuh dan berdaya, memberikan kontribusi nyata lewat deretan tokoh ahli dari berbagai lintas bidang.
Hingga kini, perjalanan tersebut masih terus diperjuangkan. Pengalaman yang dilalui mengajarkan bagaimana berdamai dengan masa lalu, merayakan identitas tanpa rasa takut, serta menempatkan sejarah sebagai ruang refleksi bersama.
Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang komunitas Tionghoa itu sendiri, melainkan tentang Indonesia.

Tentang bagaimana sebuah bangsa terus belajar menerima, mengakui, dan tumbuh bersama dalam keberagaman yang selaras dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika.
Berangkat dari kisah perjalanan ini, lahirlah Galeri Budaya Tionghoa Indonesia di Pantjoran PIK yang resmi pada Jumat (23/1/2026) sore.
Rangkaian acara pembukaan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia diawali opening ceremony, dilanjutkan pertunjukan barongsai dan pengguntingan pita sebagai penanda peresmian oleh Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Teuku Riefky Harsya dan CEO Agung Sedayu Group Natalia Kusumo beserta jajaran. Acara kemudian diisi sesi foto bersama dan tur galeri.

Galeri Budaya Tionghoa Indonesia ini merayakan kisah komunitas Tionghoa di Nusantara dan menjadi ruang budaya yang menampilkan memori kolektif serta warisan yang tetap hidup dan terjaga.
“Galeri Budaya Tionghoa Indonesia adalah ruang hidup yang mengajak pengunjung untuk merasakan sejarah, memahami tradisi, dan melihat bagaimana akulturasi budaya membentuk identitas bangsa kita. Galeri ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi, ruang komunitas bertumbuh, dan inspirasi kreatif bagi semua pengunjung,” ujar CEO Agung Sedayu Group Natalia Kusumo.
Dengan pendekatan kuratorial yang kontekstual, imbuhnya, galeri budaya ini mengajak pengunjung memahami budaya sebagai pengalaman hidup, terbentuk melalui interaksi lintas generasi dan komunitas.
Galeri ini juga berfungsi sebagai ruang komunitas yang membuka dialog tentang identitas dan keberagaman, sekaligus menjadi wadah edukasi dan kreatif melalui berbagai program, lokakarya, dan kegiatan interaktif bagi pengunjung dari berbagai usia.

Di galeri ini pengunjung dapat menelusuri tiga zona utama yaitu Ruang Kedatangan, Ruang Kesaksian, dan Ruang Keakraban.
Masing-masing menawarkan perspektif berbeda tentang perjalanan identitas, komunitas, dan rasa kebersamaan.
Narasi yang ditampilkan merangkai kisah sehari-hari dari pedagang, perajin, ibu rumah tangga, wirausahawan, hingga tokoh publik, menunjukkan bagaimana kontribusi mereka turut membentuk masyarakat Indonesia yang majemuk. Setelah melewati ketiga zona utama, pengunjung akan tiba di Temporary Exhibiton Area.

Ruangan ini menghadirkan pameran bergilir setiap 6 bulan yang mengangkat topik lebih mendalam dengan pendekatan kolaboratif dan perspektif kontemporer.
Setiap pameran yang dihadirkan akan melibatkan kolaborasi antar komunitas, kolaborator, dan individu kreatif.
Pameran perdana hadir dengan tajuk “≠ / Tidak Sama Dengan”, yang dimana konsepnya berangkat dari keberagaman identitas yang selalu terbuka akan hal baru. Dalam pameran ini, terdapat karya-karya seniman ternama serta kontemporer seperti Edita Atmaja, FX. Harsono, Meliantha Muliawan, dan Yaya Sung.

Melalui pameran, pertunjukan, dan diskusi publik, pengunjung diajak untuk memahami sejarah dengan cara yang menarik dan interaktif, menjelajahi kisah-kisah komunitas Tionghoa di Nusantara, dan merasakan langsung bagaimana tradisi, budaya, dan kehidupan sehari-hari komunitas Tionghoa membentuk warna keberagaman Indonesia.
Kehadiran galeri budaya di Pantjoran PIK selaras dengan kampanye PIK Berbudaya yang telah dicanangkan sejak 2025.

PIK Berbudaya merupakan inisiatif untuk memperkenalkan kembali keberagaman Nusantara melalui perpaduan sejarah, seni pertunjukan, kuliner, serta kreativitas kontemporer dalam satu rangkaian pengalaman di berbagai destinasi Pantai Indah Kapuk, termasuk Pantjoran PIK.
Oleh karena itu, Galeri Budaya Tionghoa Indonesia diharapkan dapat semakin melengkapi pengalaman pengunjung, menjadikan Pantjoran PIK tidak hanya sebagai destinasi kuliner, namun juga destinasi edukasi, tempat pengunjung dapat menyelami perjalanan, nilai, dan warisan budaya Tionghoa di Indonesia dalam ruang yang imersif, relevan, dan hidup.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengapresiasi atas kehadiran Galeri Budaya Tionghoa Indonesia sebagai ruang edukasi budaya yang disajikan secara inovatif.

“Saya mengapresiasi dari teman-teman pimpinan dari Sedayu Group dan juga tentu para budayawan, para kurator, akademisi yang bersatu padu untuk menampilkan sebuah galeri budaya Tionghoa Indonesia yang memberikan edukasi. Dan juga menceritakan sejarah edukasi ditampilkan dengan cara yang inovatif,” ujarnya.

Menurut Menteri Teuku, pendekatan imersif yang dihadirkan membuat pengunjung dapat merasakan langsung perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia, sekaligus memahami nilai kebersamaan yang terbangun sejak masa awal kedatangan.
“Sehingga di dalam museum ini kita bisa merasa terinformasi dengan baik, dengan suasana yang nyaman, kemudian ada animasi juga, ada foto-foto, ada bacaan-bacaan dan juga experience yang paling penting merasakan suasana ketika leluhur dari warga Indonesia yang berasal dari Tionghoa ini ketika baru datang ke Indonesia. Dan ini sangat menyentuh dan tentu banyak hal yang kita bisa pelajari disitu tentu kebersamaan antara warga Tionghoa dengan warga Indonesia ketika itu juga membawa kesan yang baik begitu dan ini tentu perlu diketahui oleh generasi-generasi selanjutnya,” urainya.

Selain itu, ia juga menilai fasilitas dan teknologi yang digunakan di galeri ini mampu menjangkau pengunjung dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga generasi muda.
“Fasilitasnya cukup baik. Menurut saya ini luar biasa begitu karena suasananya nyaman, ditampilkan juga dengan ada teknologi disitu, ada dokumentasi, ada experience yang bisa kita rasakan. Jadi ini juga cocok sekali tidak hanya untuk orang tua tapi anak-anak, remaja maupun anak-anak muda begitu, pelajar, ini bisa menjadi referensi yang baik,” jelasnya.

Peresmian Galeri Budaya Tionghoa Indonesia turut dihadiri perwakilan Agung Sedayu Group, akademisi, kurator, serta komunitas seni dan budaya.
Selain itu Prof. Dr. Lilawati Kurnia dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia selaku Direktur Jakarta Center for Cultural Studies, seniman partisipan GBTI FX Harsono, serta komunitas Tionghoa Indonesia. **
