Trump Sebut Akan Serang Iran seperti Venezuela

WASHINGTON (LB)– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump blak-blakan mengancam akan menyerang  Iran  sebagaimana militernya membombardir Venezuela. Dia juga memberi contoh pembunuhan pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi.

Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menegaskan tujuan utamanya terhadap Iran adalah menang.

“Tujuan akhirnya adalah untuk menang. Mari kita definisikan dengan Venezuela. Mari kita definisikan dengan Al Baghdadi. Dia telah dilenyapkan,” ujarnya, dikutip Rabu (14/1).

Militer AS menyerang Venezuela disertai dengan penangkapan terhadap Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Belum jelas apakah pernyataannya tersebut berarti AS juga akan menggulingkan rezim Iran yang kini dipimpin Ayatollah Ali Khamenei atau tidak.

Dia berdalih tidak ingin melihat apa yang terjadi di Iran, di mana demonstrasi pecah sejak 2 pekan lalu yang merenggut ribuan nyawa.

Trump juga menghasut para demonstran Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga pemerintah seraya mengklaim warganya dianiaya.

Demonstran di Iran pecah sejak 28 Desember 2025 dipicu inflasi akibat melemahnya mata uang rial Iran. Unjuk rasa yang awalnya berjalan damai menyebar ke kota-kota besar lainnya disertai kerusuhan dan pembakaran.

Kemudian pada 8 Januari, muncul Reza Pahlevi, putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam pada 1979. Dia kini tinggal di pengasingan di AS. Pahlevi ikut menghasut demonstran untuk menggulingkan pemerintahan.

Bentrokan semakin parah setelah pemerintah Iran memutus jaringan internet dan komunikasi sejak Kamis pekan lalu.

Sementara itu, Jumlah korban tewas dalam demonstrasi besar-besaran di Iran mencapai 648 orang hingga Senin (12/1). Angka tersebut berdasarkan laporan Lembaga Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia.

Menurut data IHR, dari 648 orang yang tewas, sembilan di antaranya anak di bawah umur.  Selain itu ribuan lainnya luka.

IHR memperingatkan jumlah korban tewas yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, bahkan berdasarkan perkiraan lebih dari 6.000 orang. Selain itu 10.000 orang lebih ditangkap di penjuru negara.

Pemadaman internet serta putusnya layanan komunikasi membuat upaya memverifikasi laporan-laporan terkait korban secara independen sangat sulit.

“Masyarakat internasional memiliki kewajiban untuk melindungi para demonstran sipil dari pembunuhan massal oleh republik Islam,” kata Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.

Berbeda dengan data IHR, pejabat Iran  mengungkap data korban tewas selama 2 pekan lebih demonstrasi mengguncang negara tersebut, yakni sekitar 2.000 orang. Angka tersebut sudah termasuk personel pasukan keamanan dan polisi.

Ini merupakan kali pertama otoritas berwenang Iran mengungkap jumlah korban tewas dalam demonstrasi yang dipicu memburuknya kondisi perekonomian serta pemadaman internet.

Namun pejabat tersebut tidak memberikan perincian para korban tewas.

Angka tersebut juga di atas penghitungan lembaga-lembaga HAM internasional yang berbasis di luar negeri, yakni di kisaran 600 hingga 700 orang, termasuk pasukan keamanan.

Pejabat tersebut mengatakan kepada Reuters, dikutip Rabu (13/1), para demonstran maupun pasukan keamanan dibunuh oleh “teroris”, sebutan bagi kelompok-kelompok bersenjata didukung oleh pihak asing untuk membuat rusuh demonstrasi yang di masa-masa awal berlangsung tertib. tom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *