Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Ade Hasrat.
CIBINONG (LB)- Setelah status tanggap darurat habis pada 17 Maret kemarin, Kabupaten Bogor masih waspada terhadap bencana hidrometeorologi yang masih terus berlangsung.
Apalagi, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 20 Maret 2025, potensi cuaca buruk berupa angin kencang dan hujan deras masih terus berlangsung.
Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga awan hujan yang berasal dari laut tidak jatuh ke Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek).
“Potensi bencana hidrometeorologi masih ada, namun kami sudah melakukan OMC hingga hujan yang tetap turun di Bogor, itu memang awan hujan yang terbentuk ada di atas langit Bogor. Hingga curah hujannya masih terkendali,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Ade Hasrat kepada wartawan, Selasa (18/3).
Ade Hasrat menuturkan, sesuai prakiraan BMKG. Pada Bulan April mendatang, potensi atau ‘ancaman’ bencana hidrometeorologi tetap terjadi.
Namun, ‘ancaman’ bencana hidrometeorologi tersebut bukanlah hujan, namun sebaliknya, yaitu kekeringan.
Berdasarkan pengalaman atau data bencana alam kekeringan tahun sebelumnya, ancaman bencana alam kekeringan bisa terjadi di 37 dari 40 kecamatan.
“Tahun 2023, ada 37 kecamatan yang terdampak bencana alam kekeringan. Oleh karena itu, kani sudah menyiapkan mobil tangki air untuk nantinya menjadi transportasu distribusi bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak bencana alam kekeringan,” tutur Ade Hasrat.
Ia pun mengingatkan, selain ‘ancaman’ bencana hidrometeorologi, ancaman megathrust juga ada, walaupun waktu dan lokasi hanya Allah SWT yang mengetahui.
“Mudah-mudahan tidak terjadi megathrust, walaupun kita tetap mewaspadai ancaman bencana alam gempa bumi tersebut,” tukasnya. *
