Bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara.
MEDAN (LB)- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara mengerahkan personel dan peralatan penanggulangan bencana ke lokasi dampak bencana alam di sejumlah wilayah itu.
“Ada dua tim yang sudah sampai di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan 14 personel,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati di Medan, Rabu (26/11).
Selain Kabupaten Tapanuli Selatan, kata dia, BPBD Sumut juga mengerahkan 17 personel ke lokasi bencana Kabupaten Tapanuli Tengah.
Yuyun mengatakan personel yang dikerahkan menuju Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih melakukan berbagai upaya karena akses jalan masih terganggu.
“17 personel menuju Tapanuli Tengah dan Sibolga, tapi tim masih tertahan,” kata dia
Yuyun mengatakan tim yang dikerahkan di lokasi bencana tersebut juga membawa logistik serta peralatan penanggulangan guna membantu tim gabungan di wilayah tersebut.
“Nanti ada menyusul lagi ke Kabupaten Mandailing Natal tiga tim,” sebut dia.
Yuyun mengatakan pihaknya bersama pemangku kebijakan terkait bakal melakukan berbagai upaya dalam menghadapi bencana alam di sejumlah wilayah itu.
Berdasarkan Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara (Sumut) sejumlah wilayah di itu mengalami bencana alam seperti banjir, tanah longsor serta cuaca ekstrem Berdasarkan laporan Pusdalops Sumut, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga tercatat terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Sedangkan Kabupaten Madina dilanda banjir dan cuaca ekstrem.
Akibat Siklon Tropis KOTO
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan cuaca hujan ekstrem yang memporak-porandakan sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada 24–25 November 2025 dipicu pengaruh badai tropis atau Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B yang terbentuk di sekitar perairan Indonesia.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa dua sistem cuaca signifikan tersebut meningkatkan pertumbuhan awan konvektif serta memicu hujan lebat dan angin kencang di wilayah Sumatera bagian utara hingga berujung menjadi bencana banjir dan longsor berdampak signifikan.
Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bibit Siklon 95B di Selat Malaka mempengaruhi pembentukan awan konvektif luas dari Aceh hingga Sumatera Utara, sedangkan Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu memperkuat hujan melalui pola belokan angin dan penarikan massa udara basah ke pusat siklon.
Abdul menjelaskan empat kabupaten di Sumatera Utara, yakni Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, mengalami dampak cuaca ekstrem secara beruntun, yang sementara ini mengakibatkan delapan warga meninggal, ratusan lainnya luka-luka – kerusakan infrastruktuf yang masif.
BNPB memastikan ratusan personel tim petugas gabungan sudah dikerahkan ke lokasi bencana untuk melakukan penanganan tanggap darurat termasuk evakuasi warga dan menyiapkan tempat pengungsian. *
