Saat Kiernan Dewsbury-Hall (kiri) melepas tendangan yang berakibat gol ke gawang Manchester United.
MANCHESTER – Everton mengalahkan Manchester United (MU) dengan skor 1-0 dalam lanjutan Liga Inggris di Old Trafford, Selasa (25/11) dini hari WIB. Hasil ini semakin pahit didapat MU karena lawan bermain dengan 10 pemain..
Gol Everton dicetak Kiernan Dewsbury-Hall pada babak pertama. Sebelum gol ini terjadi, Everton kehilangan satu pemain setelah Idrissa Gueye diganjar kartu merah usai menampar rekan setim, Michael Keane.
Manajer The Toffees, David Moyes pun mencatatkan rekor. Opta mencatat bahwa ini menjadi kemenangan pertama Moyes di Old Trafford dalam 18 pertandingan saat menangani tim tamu. Dalam laga lainnya, Moyes membawa tim asuhannya empat kali imbang dan 13 kali tumbang.
Moyes menyebut skuadnya sebagai tim yang tangguh. “Kalau anda menginginkan tim pemenang, dengan ketangguhan dan kemampuan menghadapi saat sulit, yang membawa kami meraih hasil baik, lantas saya pikir anda harus memiliki pemain yang bereaksi seperti itu. Saya kecewa kami mendapat kartu merah, tapi semua pemain akan bilang pada anda betapa marahnya mereka terhadap rekan satu tim jika berbuat salah,” kata Moyes di BBC.
Moyes mengaku cukup menyukai ketika para pemainnya berselisih di lapangan. Insiden itu terjadi pada menit ke-13, saat pertandingan masih tanpa gol atau tak lama setelah pemain United, Bruno Fernandes, hampir mencetak gol.
Keane terlihat mendorong Gueye dua kali sebelum gelandang Senegal itu memukul wajah Keane dengan telapak tangan.
Penjaga gawang Everton asal Inggris, Jordan Pickford, segera memisahkan keduanya sebelum wasit Tony Harrington memberikan kartu merah langsung kepada Gueye karena violent conduct atau tindakan kekerasan.
Menurut Moyes perselisihan tersebut sebagai tanda ketangguhan yang ia harapkan dari timnya. “Tahukah Anda, saya cukup suka ketika para pemain saya berkelahi. Saya ingin mereka menjadi tangguh,” ucap Moyes.
Setelah pertandingan berakhir, Gueye menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia mengambil tanggung jawab penuh atas tindakannya. “Saya ingin meminta maaf, pertama-tama kepada rekan setim saya, Michael Keane. Saya bertanggung jawab penuh atas reaksi saya. Saya juga meminta maaf kepada rekan tim saya, staf, para penggemar, dan klub. Apa yang terjadi tidak mencerminkan siapa saya atau nilai-nilai yang saya junjung. Emosi bisa memuncak, tetapi tidak ada yang membenarkan perilaku seperti itu. Saya akan memastikan itu tidak akan terjadi lagi,” tulis Gueye.
Moyes pun menambahkan bahwa rekan-rekan setim Gueye memberikan tepuk tangan saat pemain itu berdiri di depan grup dan meminta maaf. “Cukup jantan untuk berdiri dan mengatakan dia membuat kesalahan. Saya telah menerimanya, kita semua harus move on,” tambah pelatih asal Skotlandia tersebut.
Keane dan Gueye juga sudah berdamai saat turun minum. “Itu momen gila. Jelas bisa dihindari. Yang bisa saya katakan adalah Idrissa telah meminta maaf kepada kami semua di babak pertama dan menyampaikan pendapatnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan dan kita bisa melupakannya,” kata Keane kepada Sky Sports.
Keputusan wasit memberikan kartu merah telah diperiksa dan dikonfirmasi oleh VAR. Meski demikian, pelatih Manchester United, Ruben Amorim, tidak setuju dengan keputusan kartu merah untuk Gueye. “Kami bisa berkelahi dengan rekan setim. Saya tahu itu adalah tindakan kekerasan karena wasit menjelaskan, tetapi saya tidak setuju,” jelas dia.
Namun MU malah gagal mengambil keunggulan jumlah pemain. Amorim menilai Manchester United masih berada di bawah ekspektasinya. “Kami belum sampai di sana (sesuai ekspektasi), bahkan belum mendekati titik yang seharusnya jika ingin bersaing untuk posisi terbaik di liga. Lima pekan ini orang-orang memuji evolusi kami. Saya selalu mengatakan hal yang sama. Kami bahkan belum mendekati momen yang seharusnya di klub ini,” ujar Amorim seperti dilansir ESPN.
Amorim mengaku khawatir akan kembali merasakan kepahitan musim lalu. MU melewati salah satu musim terburuknya dengan finis ke-15 dan nirgelar. “Saya merasa takut kembali ke perasaan seperti musim lalu. Itulah kekhawatiran terbesar saya. Kami harus bekerja bersama. Para pemain mencoba tapi kami harus lebih baik,” katanya. Ia juga mengaku sama frustrasinya dengan para fans.
“Saya sangat frustrasi, seperti orang-orang lain yang mendukung Manchester United. Kami harus merasa frustrasi dengan cara kami memulai laga dan bagaimana kami tak mengerti caranya bermain melawan 10 orang. Mereka memang layak menang. Kami punya banyak peluang di babak kedua lewat umpan-umpan silang dan bola-bola kedua, tapi kualitas dan pengambilan keputusannya kurang. Everton tim yang lebih baik,” ungkap Amorim.***
