BUKU ‘DUMPLINGS & DREAMS’: Suasana talk show buku ‘Dumplings & Dreams’. (Ki-ka) Fiona, Hillary Aimee Srijaya, Murti Bunanta, Melani Budianta dan Tiffany.
JAKARTA – Hillary Aimee Srijaya, remaja 14 tahun di Jakarta menghadirkan kisah perjuangan gadis yang mandiri dalam sebuah buku berjudul Dumplings & Dreams.
Acara launching buku tersebut dilangsungkan di 25hours Hotel The Oddbird, lantai 9 (Berlin and Hamburg Rooms), Sudirman Central Business District 8, Jl Jenderal Sudirman Lot 28, Jakarta, Sabtu (8/11) mulai pukul 13.30 hingga selesai.

Tampil sebagai pembicara dalam acara ini adalah Murti Bunanta (aktivis anak, sastrawan dan dosen) dan Melani Budianta (profesor dalam bidang studi budaya) dengan moderator Fiona dan Tiffany.
Dumplings and Dreams menampilkan kisah yang mengharukan tentang keberanian, persaudaraan dan ketangguhan. Kisah ini merayakan kekuatan untuk berani bermimpi, bahkan ketika dunia berkata sebaliknya.

Dalam buku ini, tampil sosok Liwen yang lahir di Tiongkok, pada masa Dinasti Qing. Liwen yang berusia empat belas tahun diharapkan mengikuti tradisi dan menjaga kehormatan keluarganya. Namun, Liwen punya rencana lain. Rencananya melibatkan pangsit, bukan mas kawin.
Ketika ibunya mengumumkan perjodohan, dunia Liwen terguncang. Dihantui oleh perjuangan kakak perempuannya dalam pernikahan tanpa cinta, ia berani menantang takdirnya dan membuktikan bahwa ia mampu membangun masa depan yang ia ciptakan sendiri.

Berbekal tekad dan bakat memasak, Liwen memulai perjalanannya dari dapur megah di rumah keluarganya menuju pasar Fuqing yang ramai di provinsi Fujian. Sepanjang perjalanan, ia menghadapi keraguan diri, kegagalan dan ekspektasi masyarakat yang tinggi.
Namun, dengan bantuan saudara perempuannya, seorang koki keluarga yang setia, dan komunitas anak-anak yatim piatu yang terus berkembang yang ia latih, Liwen mengubah keterampilan membuat pangsitnya menjadi bisnis yang berkembang pesat dan gerakan perubahan yang dahsyat.

Terkait Hillary, ia yang lahir pada 17 Februari 2011 dan siswa kelas 9 di Jakarta Intercultural School (JIS), menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Inggris, lalu ia ilustrasikan dan terjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.

Hillary sendiri adalah siswa tribahasa yang fasih berbahasa Inggris, Indonesia dan Mandarin. Ia mulai belajar bahasa Mandarin sejak usia dua tahun. Ia dilatih mengajar bahasa Mandarin secara formal, karena ia telah lulus sertifikasi HSK 4.

Hillary juga terlatih dalam seni rupa dan seni digital. Ia telah menerima pelatihan formal di bidang seni sejak usia sembilan tahun. Selain itu, Hillary mendirikan surat kabar sekolah menengahnya, KV Gazette, di SPH Kemang Village.

Dengan bakat dan semangatnya dalam memajukan pendidikan anak perempuan di Indonesia, ia bercita-cita bergabung dengan #TimUNICEF untuk membantu setiap anak mencapai potensi terbaiknya.

Melalui penjualan buku Dumplings and Dreams, Hillary bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pendidikan dan kemampuan anak perempuan. Ia yakin buku ini akan diterima dengan baik oleh para pembaca muda, terutama anak perempuan yang bercita-cita menulis dan menggambar seperti dirinya.

Murti Bunanta dan Melani Budianta pun memberikan apresiasi kepada Hillary, karena dalam usia yang relatif masih sangat muda (remaja), bisa menghadirkan kisah yang inspiratif.


Keduanya berharap Hillary terus berkarya dan menghasilkan lebih banyak buku dengan kisah-kisah menarik lainnya. Karya Hillary ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Dan hasil dari acara ini didonasikan ke badan PBB, Unicef.***
