Kualitas air di Kota Cimahi telah mencapai titik nadir, masuk kategori “tercemar berat” akibat gempuran limbah komunal dan peternakan yang tanpa ampun mencemari aliran sungai.
CIMAHI (LB)- Kualitas air di Kota Cimahi telah mencapai titik nadir, masuk kategori “tercemar berat” akibat gempuran limbah komunal dan peternakan yang tanpa ampun mencemari aliran sungai.
Kondisi ini menjadi alarm bahaya, data dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkap fakta pahit dengan menempatkan Cimahi dalam kondisi darurat lingkungan.
Indeks Kualitas Air (IKA) Cimahi merosot tajam dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2022 masih mencatatkan skor 34,58, lebih baik dari Kota Bekasi, kini angkanya terjun bebas menjadi 22,5 di 2023, dan mencapai titik terendah 14,76 di 2024. Angka merah ini menjadi bukti nyata bahwa air di Cimahi sudah sangat memprihatinkan.
Kepala Bidang Penaatan Hukum Lingkungan DLH Kota Cimahi , Ario Wibisono menjelaskan bahwa masalah ini telah dibahas dalam forum bersama sejumlah daerah sekitar yang difasilitasi oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa pada Kamis, 21 Agustus 2025 lalu.
“Karakter wilayah Cimahi memperburuk kualitas air,” ungkap Ario, Selasa (23/9).
Ario menyebut, Cimahi berbeda dengan 27 kabupaten/kota lain di Jawa Barat lantaran tidak memiliki mata air maupun hulu sungai.
Menurutnya, aliran sungai yang melintasi Cimahi berasal dari Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan bermuara ke Sungai Citarum di Kabupaten Bandung.
“Secara nyata ada lima aliran sungai, meski lebarnya ada yang hanya dua meter. Kalau di daerah lain mungkin hanya dihitung selokan, tapi di Cimahi itu masuk kategori sungai,” jelasnya.
“Kelima sungai tersebut adalah Cibeureum, Cibaligo, Cihaur, Cimahi , dan Cisangkan, yang secara berkala dipantau untuk mengukur kualitas air dan tingkat pencemarannya,” sebutnya.
Kendati demikian, Ario tak memungkiri bahwa Cimahi tidak bisa sepenuhnya mengendalikan pencemaran karena hulu sungai berada di KBB.
“Makanya kementerian mengundang kabupaten/kota sekitar untuk membahas masalah ini. Karena dalam penilaian, Cimahi tidak punya nilai mata air dan hulu sungai,” ujarnya.
Tak cuma itu, temuan mengejutkan lainnya adalah kandungan total coliform yang menjadi indikator pencemaran. Di hulu Sungai Cimahi wilayah KBB, kadarnya masih ribuan (10 pangkat 3), namun melonjak drastis menjadi 10 pangkat 4 hingga 10 ribu saat memasuki cimahi.
Bahkan, di tengah sungai mencapai 10 pangkat 6, dan di hilir menembus 10 pangkat 7.
“Yang paling berat cemarannya itu ada di Sungai Cibeureum,” tegasnya.
“Kondisi ini menjadi gambaran bahwa sungai-sungai di cimahi telah berubah menjadi selokan limbah raksasa yang mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem,” tandasnya. *
