Peneliti Kembangkan Suplemen Kesehatan Anak dari Paduan Daun Kelor dan Temulawak

JAKARTA(LB)-Daun kelor (Moringa oleifera Lam) dan temulawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb) dikenal memiliki khasiat kesehatan.

Kedua tanaman ini dikenal memiliki khasiat kesehatan yang signifikan. Temulawak kaya akan kurkumin yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan.

“Sementara daun kelor menawarkan nutrisi tinggi, termasuk vitamin A, C, dan mineral seperti kalsium dan zat besi, yang mendukung kesehatan anak-anak, menurunkan gula darah, serta mencegah stunting,” kata Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Sofa Fajriah, baru baru ini.

Maka dari itu, dua tanaman obat unggulan Indonesia ini dikembangkan sebagai produk kesehatan inovatif oleh PR BBOOT, bekerja sama dengan Unit Pelaksana Fungsional (UPF) Pelayanan Kesehatan Tradisional RSUP Dr. Sardjito.

“Kerja sama ini bertujuan membangun dan memperluas jejaring kolaborasi penelitian antara kedua institusi. Fokus utamanya adalah pengembangan temulawak dan daun kelor, dua tanaman yang telah ditetapkan sebagai Tanaman Obat Indonesia Unggulan oleh pemerintah,” kata Sofa.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) berlangsung di gedung UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito, Tawangmangu, Jawa Tengah, pada Jumat (12/9) lalu. Kerja sama ini bertujuan memperluas jejaring penelitian dan mempercepat hilirisasi hasil riset.

Kerja sama ini juga bertujuan menghasilkan sediaan berbasis ekstrak kedua tanaman tersebut, dengan produk utama berupa jelly stick yang dirancang sebagai suplemen kesehatan ramah anak.

“Inisiatif ini sejalan dengan program nasional pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak usia sekolah, yang menjadi salah satu upaya strategis untuk mencegah stunting dan mempersiapkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” jelas Sofa.

Ruang lingkup kerja sama mencakup berbagai aspek penelitian dan pengembangan.

Mulai dari standarisasi tanaman temulawak dan daun kelor, pengembangan metode ekstraksi, formulasi sediaan, hingga pengujian keamanan dan khasiat secara in vitro.

Selain itu, kegiatan juga meliputi analisis kandungan gizi, uji penerimaan responden (hedonik), proses upscaling, penyediaan tenaga ahli, penggunaan sarana dan prasarana bersama, pertukaran data, penyusunan draf paten, serta publikasi ilmiah.

Kerja sama ini direncanakan berlangsung dalam dua tahap utama dari tahun 2025 hingga 2028. Kepala UPF Dr. Sardjito Tawangmangu, dr. Ulfatun Nisa menyambut gembira kerja sama ini.

“Ini kabar baik untuk kesehatan masyarakat Indonesia, terutama anak-anak. Proyek ini bisa tingkatkan gizi dan turunkan angka kurang gizi atau gizi buruk. Wakil Menteri Kesehatan RI memprioritaskan pengembangan obat alami dan menekankan sampai fitofarmaka, yang memerlukan bantuan BRIN di sisi praklinik. Sehingga selanjutnya akan ada kolaborasi baru perihal fitofarmaka,” ujar Nisa. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *