Lamine Yamal (kiri) dan Kylian Mbappe akan adu ketajaman di laga Spanyol kontra Prancis.
DALLAS – Spanyol ditantang Prancis dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion Dallas, AS, Rabu (15/7) pukul 02.00 WIB. Laga diprediksi berjalan ketat dan sengit.
Spanyol belum pernah kalah dengan lima kemenangan beruntun selepas hasil imbang pada laga pembuka Grup H melawan Cape Verde.
Tim Matador kembali unjuk mental juara selepas mendepak Portugal dan Belgia secara beruntun. Mikel Merino kembali tampil sebagai penentu kemenangan atas Belgia, setelah sebelumnya juga mencetak gol penting saat menghadapi Portugal.
Kekuatan terbesar Spanyol, tetap ada di organisasi permainan mereka. Tim asuhan Luis de la Fuente hanya bobol satu gol serta mencatat lima clean sheet sepanjang Piala Dunia 2026.
Ketangguhan lini belakang itu didukung dominasi lini tengah yang jago mengontrol jalannya laga. Spanyol sudah mencatat 4.000 operan lebih di turnamen ini, lebih banyak dibanding Prancis.
Rodri menjadi pusat permainan dengan kemampuannya mengatur tempo, didukung kreativitas Dani Olmo, Fabian Ruiz, hingga Pedri yang siap kembali memperebutkan tempat di lini tengah.
Di sektor sayap, Lamine Yamal memang belum setajam saat Euro 2024, tetapi winger berusia 18 tahun itu tetap berpotensi mengancam berkat kecepatan dan skill menggiring bolanya.
Lini depan La Furia Roja juga tidak bergantung pada satu pemain. Mikel Oyarzabal memang berstatus sebagai top skor tim dengan empat gol, tetapi kontribusi gol La Roja tersebar dari sejumlah pemain seperti Merino, Ferran Torres, Nico Williams, hingga Yeremy Pino. Kedalaman skuad ini memberi Luis de la Fuente banyak opsi untuk mengubah jalannya pertandingan apabila diperlukan.
Jelang laga itu De la Fuente mulai memainkan perang urat saraf dengan mengingatkan Prancis pada memori buruk setiap kali berhadapan dengan Spanyol dalam beberapa tahun terakhir.
Namun ia tak menampik Prancis merupakan salah satu tim terbaik di dunia, tetapi anak asuh Didier Deschamps tak akan merasa nyaman menghadapi Spanyol. “Saya yakin mereka juga akan khawatir saat menghadapi kami. Kami adalah satu-satunya tim di dunia yang berhasil mengalahkan mereka dalam dua pertemuan beruntun,” kata De La Fuente kepada Teledeporte.
Sementara Prancis datang ke semifinal dengan modal sempurna usai menyapu bersih 6 kemenangan beruntun. Les Bleus lolos sebagai juara Grup I sebelum menyingkirkan Swedia, Paraguay dan Maroko.
Prancis mengandalkan lini serang eksplosif di bawah komando Kylian Mbappe. Ketajaman Prancis terlihat dari efektivitas Mbappe dan kolega dalam memanfaatkan peluang.
Menariknya, Les Bleus dan Spanyol sama-sama sudah melepas 110 tembakan sepanjang turnamen. Bedanya, Prancis mampu mengonversi peluang itu menjadi 16 gol, sedangkan Spanyol baru mencetak 11 gol. Singkatnya, kualitas penyelesaian akhir tim asuhan Didier Deschamps lebih klinis.
Pelatih Prancis Didier Deschamps terlihat memberi kebebasan lebih kepada lini depannya dibanding turnamen-turnamen lain. Kombinasi Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, serta Desire Doue atau Bradley Barcola bikin serangan Les Bleus lebih dinamis dan sulit diprediksi.
Mbappe kini memimpin persaingan Sepatu Emas bersama Lionel Messi dan Erling Haaland dengan koleksi delapan gol.
Kendati demikian, Prancis masih punya pekerjaan rumah di lini tengah. Manu Kone sempat mengalami masalah pada lutut saat menghadapi Maroko, sedangkan Aurelien Tchouameni masih berpacu dengan waktu untuk pulih dari cedera paha. Jika keduanya belum dalam kondisi terbaik, keseimbangan lini tengah Les Bleus bisa terganggu saat bersua lini tengah Spanyol yang dikenal kuat menguasai bola.
Deschamps menyebutkan laga nanti bakal ketat karena kedua tim memiliki kelebihan masing-masing. “Laga nanti bakal ketat. Kami tentu menyiapkan diri dengan baik. Pemain-pemain Spanyol sangat bagus. Kami sudah siap melakoni laga tersebut dan berjuang mencapai babak final,” kata Deschamps di situs FIFA.***
