Industri Terjepit Antara Tingginya PAT dan Minimnya Fasilitas Air Tirta Kahuripan

Petugar Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor tengah mengecek pipa distribusi air.

CIBINONG (LB)- Industri di Kabupaten Bogor belum dapat sepenuhnya mengandalkan air permukaan yang dikelola Perumda Air Minum Tirta Kahuripan

Hal itu disebabkan keterbatasan anggaran investasi untuk membangun jaringan pipa baru yang biayanya sangat mahal dan juga kualitas airnya yang rentan pencemaran limbah dan terjadinya kekeringan.  

Sementara, industri sedang tertekan karena naiknya tarif Pajak Air Tanah (PAT) sebesar 150 persen, dari besaran tarif PAT sebelumnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bogor, Rizal Supari Abdul Hayi mengatakan, salah satu persoalan yang menyebabkan masih banyaknya penggunaan air tanah di industri itu adalah karena belum tersedianya pipa air Perumda Air Minum Tirta Kahuripan hingga ke seluruh kawasan industri.

“Hal itu mungkin karena wilayah administratif di Kabupaten Bogor ini memang sangat luas. Sementara, ada keterbatasan infrastruktur perpipaannya. Inilah yang membuat penyaluran air bersih Perumda Air Minum Tirta Kahuripan di Kabupaten Bogor ini belum merata termasuk di daerah-daerah kawasan di mana industri itu ada,” kata Rizal Supari Abdul Hayi kepada wartawan, Kamis, (9/7). 

Menurutnya, keterbatasan jangkauan pipa air Perumda Air Minum Tirta Kahuripan itu sangat dipengaruhi topografi wilayah Bogor yang berbukit. Karena untuk memompa air bersih ke dataran yang lebih tinggi itu membutuhkan investasi teknologi dan biaya operasional yang sangat besar. 

“Ini juga mungkin yang menjadi pertimbangan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan di Kabupaten Bogor ini untuk belum membangun pipa airnya di daerah-daerah tersebut,” ujarnya.

Kemudian, kapasitas produksi air baku Perumda Air Minum Tirta Kahuripan juga bisa menjadi kendala karena sebagian besar berasal dari sungai dan mata air. 

“Kendala seperti fluktuasi debit air di musim kemarau dan tingkat pencemaran sungai itu bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama jika digunakan untuk keperluan industri. Kualitas produknya bisa rusak,” sambungnya.

Terkait proses distribusi air bersih khususnya minum juga kerap mengalami hambatan teknis dan non-teknis, seperti kebocoran pipa utama hingga pemotongan jalur pipa oleh pihak yang bersengketa dengan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan.

“Nah, jika itu terjadi pasti akan sangat berdampak bagi industri yang bakal  menggunakan langganan air Perumda Air Minum Tirta Kahuripan,” tukasnya. 

Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor, Boboy Ruswanto

 menyebutkan tidak semua tempat yang ada industri di Kabupaten Bogor itu dilalui aliran air dari Perumda Air Minum Tirta Kahuripan.

“Kalaupun ada, industri itu juga tetap mempergunakan air tanah dengan pertimbangan untuk menjaga kalau suatu saat ada trouble dari Perumda Air Minum Tirta Kahuripan. Karena untuk usaha hotel, air adalah kebutuhan utama. Pelaku usaha tidak mau beresiko, jadi tetap harus ada back up seperti listrik di-backup dengan genset,” sebut Boboy Ruswanto.

Sebelumnya, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, Tedi Kurniawan, mengatakan saat ini cakupan layanan Tirta Kahuripan baru mencapai 12,51% secara administrasi dan 31,31% dari populasi di 29 dari 40 kecamatan. 

Untuk memperluas layanan, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan mengembangkan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui skema kerjasama Business to Business dengan badan usaha swasta, dengan investasi diproyeksikan mencapai tiga triliun rupiah hingga 2030. 

“Untuk itu, kami membuka peluang investasi seluas-luasnya dalam lima tahun ke depan untuk memperluas layanan PDAM yang saat ini baru menjangkau sekitar 31 persen dari 5,8 juta penduduk Kabupaten Bogor,” kata Tedi Kurniawan.

Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Nasional Padjadjaran (Genpar), Sambas Alamsyah menuturkan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan belum sepenuhnya menjalankan kewajibannya dengan baik, seperti memberikan pelayanan air yang memadai kepada masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya.  “Ribuan orang mengeluhkan ketersediaan air sekaligus kualitasnya. Kami menduga ini karena baku mutu air tidak sesuai dengan parameter fisik, kimia, mikrobiologi dan radioaktif,” singkatnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *