JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I memperkuat pengembangan komoditas tebu guna mendukung kebutuhan gula nasional sekaligus menopang program pengembangan bioetanol E10 yang menjadi prioritas pemerintah.
Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo mengatakan peningkatan produksi tebu menjadi langkah penting untuk memenuhi dua kebutuhan strategis secara bersamaan.
“Kalau secara target harus meningkat memang. Karena memang kalau tebu itu dibuat salah satunya untuk etanol memang harus kita alokasikan untuk etanol,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/6) malam.
Aris mengatakan, hasil pengolahan tebu tidak hanya menghasilkan gula konsumsi, tetapi juga molase yang menjadi bahan baku utama dalam produksi bioetanol.
Karena itu, peningkatan luas tanam dan produktivitas tebu menjadi faktor penting agar kebutuhan gula dan bioetanol dapat dipenuhi tanpa saling mengurangi pasokan.
PTPN I terus melakukan pengembangan areal tebu di sejumlah wilayah potensial di antaranya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri gula dan energi terbarukan.
Selain memperluas areal tanam, PTPN I juga menjalankan program peningkatan produktivitas untuk mendorong rendemen tebu yang lebih tinggi sehingga produksi gula dan produk turunan dapat meningkat secara bersamaan.
Peningkatan produksi tebu dinilai penting agar alokasi bahan baku untuk gula maupun molase sebagai bahan baku etanol dapat diatur lebih optimal guna mendukung target penerapan E10 yang dicanangkan pemerintah.
“Karena dengan cara itu tentu pembagian yang satu untuk gula sama molase untuk etanol bisa lebih mudah kita atur. Karena kewajiban E10 ini kan salah satu target dasar dari Pak Prabowo (Presiden Prabowo Subianto) sama Pak Mentan (Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman). Dan PTPN support itu,” tegasnya.
Aris menambahkan dukungan terhadap program bioetanol sejalan dengan target pemerintah dalam mengembangkan campuran bahan bakar nabati berbasis energi domestik.
Dengan meningkatnya produksi tebu, alokasi bahan baku untuk gula maupun molase dapat diatur secara lebih fleksibel sesuai kebutuhan nasional.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung ketahanan energi melalui pemanfaatan sumber daya pertanian dalam negeri.
“Sekarang kita mau swasembada, tentu cara yang paling mudah adalah dengan menambah luas dan meningkatkan produksi,” jelasnya.***
