Direktur Jenderal KPAII Kementerian Perindustrian RI, Tri Supondy dan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan, Aziz Nazar.
JAKARTA – Hubungan Indonesia dan Tajikistan yang telah terjalin selama 32 tahun terus berkembang seiring semakin luasnya peluang kolaborasi ekonomi dan manufaktur.
Sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kekuatan pada sektor otomotif, elektronik, tekstil, serta industri pengolahan berbasis sumber daya alam. Di sisi lain, Tajikistan tengah memperkuat pengembangan industri berbasis mineral, aluminium, tekstil, dan teknologi baru.
Potensi yang saling melengkapi tersebut menjadi landasan pembahasan dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian RI, Tri Supondy dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan, Aziz Nazar, pada rangkaian BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, Tiongkok.
“Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (14/6).
Pertemuan tersebut berlangsung di sela BRICS PartNIR 2026, forum yang mempertemukan negara-negara anggota dan mitra BRICS untuk memperkuat sinergi di bidang manufaktur, inovasi, teknologi dan investasi.
Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai negara, termasuk Tajikistan yang dinilai memiliki posisi strategis di kawasan Asia Tengah.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan perkembangan yang positif. Nilai perdagangan Indonesia dan Tajikistan tercatat meningkat dari USD 1,7 juta pada 2021 menjadi USD 1,9 juta pada 2025, dengan kontribusi utama berasal dari sektor nonmigas. Capaian tersebut mencerminkan masih terbukanya ruang kerja sama yang lebih luas, baik dalam perdagangan maupun pengembangan industri.
Saat melakukan bilateral Indonesia – Tajikistan di Xiamen (28/5), kedua delegasi negara membahas sejumlah peluang kerja sama yang berpotensi memperkuat kemitraan industri antara Indonesia dan Tajikistan. Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra penting sekaligus gerbang potensial untuk memperluas jangkauan produk manufaktur nasional ke kawasan Commonwealth of Independent States (CIS).
Dalam pertemuan tersebut, Dirjen KPAII Kemenperin RI Tri Supondy menyampaikan, penguatan hubungan dengan negara-negara mitra merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas industri yang lebih luas sekaligus menciptakan peluang baru bagi pelaku usaha nasional.
“Kami terus meningkatkan peluang terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jejaring industri, peningkatan investasi, serta pengembangan kerja sama yang mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara,” ujarnya.
Selain menjajaki peluang perdagangan dan investasi, kedua pihak juga membahas tindak lanjut inisiasi Nota Kesepahaman bidang industri yang diajukan Tajikistan. Pembahasan difokuskan pada penyempurnaan ruang lingkup kerja sama agar mencakup sektor yang lebih relevan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing negara.
Indonesia dan Tajikistan turut mengidentifikasi sejumlah bidang yang berpotensi menjadi fokus kolaborasi, antara lain pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta ekosistem industri halal. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki prospek yang menjanjikan dan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak.
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 yang akan digelar pada 6–9 Juli 2026 di Ekaterinburg, Rusia. Keterlibatan Indonesia pada pameran industri terbesar di kawasan Eurasia itu diharapkan semakin memperluas promosi produk manufaktur nasional sekaligus membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku industri dan investor dari berbagai negara.
Melalui dialog yang berlangsung konstruktif, Indonesia dan Tajikistan menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat hubungan ekonomi yang telah terjalin selama lebih dari tiga dekade. Kedua negara optimistis langkah tersebut akan menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai kerja sama konkret yang mendukung pertumbuhan industri dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.***
