TANGERANG (LB)- Gong kayu itu hanya dipukul tiga kali, tapi gaungnya cukup untuk membuat ratusan pasang mata tertuju ke matras.
Sabtu, 13 Juni 2026 kemarin, Atrium Mall Ciputra Citra Raya, Cikupa, berubah fungsi dari tempat belanja, jadi arena para karateka sabuk putih, hijau, cokelat, dan hitam beradu keterampilan.
Kombes Pol. H. Andi M. Indra Waspada A SH SIK MM, Kapolresta Tangerang, berdiri di depan. Dengan pukulan gong itu, Kejuaraan Karate Piala Kapolresta Tangerang pun resmi dibuka sebagai babak baru peringatan HUT Bhayangkara ke-80 dimulai
Pemilihan lokasi bukan kebetulan. Mal adalah ruang publik paling dekat dengan warga.

Di sinilah Polri ingin menunjukkan wajahnya yang lain: bukan hanya penegak hukum, tapi juga pembina karakter.
“Moto HUT Bhayangkara ke-80 adalah Mengabdi untuk Masyarakat. Karate dipilih karena aturannya keras tapi mendidik: disiplin, hormat, tidak menyerah. Itu modal anak bangsa menuju Indonesia Emas,” kata Andi dalam sambutannya
Di tribun, deretan pejabat duduk berdampingan. Ada Bupati Kab. Tangerang, Dandim 0510, Kepala Kejaksaan Negeri Kab. Tangerang, Ketua DPRD, Ketua KONI, Ketua FORKI, Danden Rudal 003 Cikupa, dan Dansat Radar 211 Tanjung Kait.
Seragam loreng, toga, batik, dan PDU biru bersanding. Gambaran itu sederhana, tapi pesannya kuat: menjaga keamanan dan membangun generasi tidak bisa dikerjakan satu institusi saja.
Kejuaraan sehari penuh itu mempertandingkan kelas anak-anak hingga kelas khusus anggota Polri. Peserta datang dari 10 Polsek jajaran Polresta Tangerang: Balaraja, Cikupa, Cisoka, Kresek, Kronjo, Mauk, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Tigaraksa . Sorak paling ramai pecah saat kelas internal Polsek bentrok di final. Pukulan “oi” bersahutan dengan tepuk tangan ibu-ibu yang menunggu anaknya bertanding.
Tapi Polresta Tangerang punya agenda lebih panjang dari piala dan piagam. Isyuono, Sekretaris Umum INKANAS Pengda Banten sekaligus Ketua Panitia, menyebut kejuaraan ini “jembatan”. “Agenda karate ini adalah jalan menuju Piala Kapolda Banten dan Piala Kapolri tahun ini. Harapannya, anggota Polri yang ikut di Piala Kapolresta Tangerang bisa melaju ke pertandingan selanjutnya. Sekaligus memacu prestasi atlet sipil sesuai jenjang yang diikuti,” ujarnya
Andi menegaskan logika berjenjang itu penting. “Kami meyakini melalui kompetisi yang berjenjang dan berkelanjutan seperti hari ini, akan melahirkan bibit-bibit unggul yang kelak mampu bersaing di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Tidak hanya untuk anggota Polri, tapi bagi anak-anak bangsa,” katanya .
Kalimat itu menutup gap antara seragam dan masyarakat sipil: pembinaan dimulai dari usia dini, hasilnya dipanen bersama.
Apresiasi Andi tertuju ke jajaran Polresta Tangerang dan panitia INKANAS Pengda Banten khususnya INKANAS Kab. Tangerang. “Terima kasih atas komitmen dan kerja keras. Semua demi anak bangsa yang berlatih sungguh-sungguh pasti jadi juara,” ucapnya
Pernyataan itu nyambung dengan arah besar Polri pasca reformasi internal 2010 dan lahirnya konsep Polri Presisi 2021. Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan.
Di Tangerang, tiga kata itu diterjemahkan konkret: buat panggung prestasi di tempat publik, melibatkan stakeholder olahraga, dan pastikan jalur pembinaan jelas dari Polsek sampai Mabes
“Saya berharap HUT Bhayangkara ke-80 Piala Kapolresta Tangerang memberikan motivasi bagi atlet ke jenjang selanjutnya. Khusus anggota Polri antar-Polsek di wilayah hukum Polresta Tangerang, bisa jadi contoh bagi anggota Polri lainnya di manapun berada,” kata Isyuono
Rangkaian ditutup penyerahan piala langsung oleh Kapolresta Tangerang, mulai pukul 09.00 WIB sampai selesai. Saat piala diangkat, sorak bergemuruh. Tapi yang lebih penting dari trofi adalah pesan yang tertinggal: Bhayangkara tidak hanya menjaga Kamtibmas dengan borgol dan pasal.
Kadang, mereka juga menjaganya dengan kiai, sabuk, dan tatami dengan semangat HUT POLRI KE 80 Keuaraan Karate Piala Kapolresta Tangerang selesai ditandai dengan aksi peragaan atraksi pasukan Dalmas Polresta Tangerang.
Di Banten, tradisi sinergi seragam dan budaya sudah lama. Kalau di Serang ada debus dan silaturahmi jawara maka di Tangerang ada karate dan disiplin. Bedanya cara, sama tujuannya: kepercayaan. Delapan puluh tahun Bhayangkara mengabdi, dan hari itu, pengabdian itu diukur bukan dari seberapa keras pukulan, tapi dari seberapa jauh jembatan prestasi yang dibangun. nov
