Program ‘UMKM BISA Ekspor’ Bukukan Transaksi US$107,34 Juta

Wamendag Dyah Roro Esti.

JAKARTA – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengatakan program usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) BISA Ekspor membukukan transaksi sebesar US$107,34 juta sepanjang Januari-April 2026.

Transaksi tersebut terdiri dari purchase order (PO) sekitar US$11,72 juta dan potensi transaksi sebesar US$95,62 juta.

“Mudah-mudahan kegiatan misi dagang ini bisa selalu kita lakukan kita sudah berupaya dalam satu tahun setengah ini penetrasi ke marketmarket seperti di Jerman, mimpin misi dagang juga kemarin ke RRT, lalu kemudian ke Jepang. Nanti kita akan mem-pinpoint negara-negara mana lagi yang mempunyai potensi,” ujar  Dyah Roro dalam agenda Peluncuran Dashboard Potensi Ekspor Indonesia di Jakarta, Senin (25/5).

Selama periode tersebut, tercatat 278 kegiatan yang terdiri dari 146 pitching dan 132 pertemuan dengan buyer yang diikuti 552 pelaku usaha.

Dia menerangkan bahwa pihaknya memiliki perwakilan di 33 negara dalam bentuk Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Perwakilan tersebut kemudian diminta untuk dicarikan pembeli, dan menghubungkan mereka dengan para pelaku usaha di Indonesia yang mempunyai minat untuk melakukan kegiatan ekspor.

Business matching ini selalu kita lakukan rutin secara online, bahkan setiap hari. Kalau arahannya Pak Menteri (Menteri Perdagangan Budi Santoso), beliau menyampaikan pokoknya business pitching ataupun business matching harus dilakukan setiap hari, maka ini adalah beberapa hal yang kami lakukan dan dari beberapa kegiatan, khususnya untuk tahun ini,” kata Dyah Roro.

Mulai tahun 2026, UMKM BISA Ekspor bersama perwakilan perdagangan mengutamakan business matching. Program ini akan melakukan kerja sama dalam penyelenggaraan pitching dan business matching bersama KBRI/KJRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia/Konsulat Jenderal Republik Indonesia) mulai awal tahun 2026.

Dyah Roro Esti juga menyatakan Indonesia memiliki kekayaan potensi ekspor yang sangat besar. “Indonesia memiliki kekayaan potensi ekspor daerah yang sangat-sangat besar dan dari situlah kita melihat kehadiran dashboard (Dashboard Potensi Ekspor Indonesia) ini sebagai sebuah jawaban, sehingga potensi-potensi tersebut bisa direalisasikan dengan baik,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, neraca perdagangan Indonesia menghasilkan surplus sebesar US$41,05 miliar. Surplus ini terdiri dari surplus non migas sebesar US$60,75 miliar dan defisit migas sebesar US$19,7 miliar.

Adapun surplus neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Maret 2026 mencapai US$5,5 miliar. Secara spesifik, ekspor non migas Januari-Maret 2026 sebesar US$63,6 miliar, sedangkan impor non migas US$52,97 miliar.

“Kami berharap juga nanti ke depannya pemerintah daerah dari lintas provinsi juga bisa memanfaatkan dashboard untuk kemudian mengetahui menggali potensi-potensi yang ada di daerah masing-masing sehingga perdagangan kita, khususnya kalau kita berbicara mengenai ekspor, juga bisa semakin meningkat,” ucap Dyah Roro.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *