Ilustrasi ikan sapu-sapu di kali atau sungai.
BOGOR (LB)- Satuan Tugas (Satgas) Naturalisasi Ciliwung menilai pembasmian ikan sapu-sapu di wilayah Kota Bogor harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Pegiat lingkungan, Suparno Jumar mengatakan, penangkapan ikan sapu-sapu yang hanya bersifat seremonial tidak akan efektif mengatasi penyebaran spesies invasif tersebut.
“Kalau secepat-cepatnya nanti terjebak pada seremonial yang akhirnya nanti tidak menyentuh akar masalah,” kata Suparno Jumar, Senin (27/9).
Ia menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor perlu mendistribusikan upaya penanganan secara merata, tidak hanya di satu titik, tetapi juga di sungai utama seperti Ciliwung dan Cisadane serta aliran anak sungainya.
“Katakanlah kalau misalnya mereka perlu seremonial, katakanlah misalnya dari energi yang 100 persen jangan habis untuk seremonial saja. Tapi bagaimana energi itu kemudian terdistribusi di sungai utama maupun anak-anak sungai,” lanjutnya.
Menurut Suparno, penangkapan ikan sapu-sapu dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti menggunakan jaring, pancing, maupun bubu. Bubu merupakan teknik tradisional ramah lingkungan berupa kurungan dari bambu, rotan, atau besi yang diletakkan di dasar perairan.
“Kalau pakai bubu kan bisa ditinggal, cuman kalau jaring kan tinggal dilempar kemudian diangkat. Kalau yang dipancing biasanya ini yang sering ditemukan oleh teman-teman pemancing. Jadi ketika mancing, ketika ada ikan sapu-sapu ketarik, paling dilempar ke darat sama pemancing,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebaran ikan sapu-sapu di Kota Bogor berada di beberapa titik aliran sungai. Di antaranya wilayah antara Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kedung Halang, lalu antara Kelurahan Kedung Badak dan Kelurahan Cibuluh tepatnya di kawasan Delimajaya hingga Jambu Dua.
Selain itu, sebaran juga ditemukan di sekitar Jembatan Yapis, antara Bantarjati dan Tanah Sareal, serta aliran sungai antara Babakan Pasar dan Baranangsiang.
“Yang ketiga yang ke atasnya lagi Antara Bantar Jati dan Tanah Sareal Itu di sekitar jembatan Yapis. Kemudian ke atas lagi Itu antara Babakan Pasar dan Baranang Siang,” jelasnya.
Seperti diketahui, Pemerintah Kota Bogor berencana membasmi ikan sapu-sapu setelah menemukan keberadaannya di tiga lokasi berbeda.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, tiga titik tersebut berada di Kedung Halang Sukaresmi, Kedung Badak, dan bawah Jembatan Yapis Bantarjati.
“Terkait dengan ikan sapu-sapu di wilayah Kota Bogor ternyata kami temukan ada di tiga titik. Titik yang pertama itu di Kedung Halang Sukaresmi, kemudian Kedung Badak, satu lagi di bawah jembatan Yapis Bantarjati,” kata Dedie di Kebun Raya Bogor, Sabtu (25/4).
Dedie menuturkan, Pemkot Bogor akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup sebelum melakukan langkah pembasmian.
Menurut dia, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Keberadaan ikan tersebut dinilai merugikan ikan lokal dan berdampak pada masyarakat yang bergantung pada sumber daya sungai. “Jadi nanti kami akan coba koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pak Menteri dan Pak Wamen, untuk bisa bersama-sama nanti kami coba upayakan untuk kita bersama-sama membasmi ya, menangkap dan menanggulangi hama ikan sapu-sapu yang ternyata sifatnya merusak ekosistem,” ujarnya. *
