Asuransi Tugu Catatkan Hasil Jasa Asuransi Rp1,02 Triliun pada 2025

JAKARTA – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) mencatatkan hasil jasa asuransi (insurance service result) yang meningkat sebesar 39,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp736 miliar pada 2024 menjadi Rp1,02 triliun pada 2025.

Anak usaha PT Pertamina (Persero) dengan kode emiten TUGU tersebut juga menunjukkan perbaikan kinerja pada aspek pendapatan jasa asuransi (insurance service revenue) yang meningkat 22,12 persen yoy menjadi Rp9,11 triliun serta premi tercatat bruto (gross written premium) yang naik 12 persen yoy menjadi Rp6,37 triliun.

“Kalau dari segmennya (lini usaha yang paling berkontribusi) ada fire and property (kebakaran dan properti), paling utama dan tetap dominan (sebesar) 46,5 persen, aviation (aviasi) 12 persen, dan offshore 10,5 persen,” kata Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (11/4).

Ia menuturkan kinerja positif tersebut mendorong peningkatan pendapatan operasional neto (net operating revenues) sebesar 33,3 persen yoy dari Rp1,71 triliun pada 2024 menjadi Rp2,28 triliun pada tahun lalu.

Diungkapkan Adi, laba setelah pajak juga melonjak menjadi Rp711 miliar pada 2025 dari Rp402 miliar dari tahun sebelumnya, atau naik 77,1 persen yoy.

Sedangkan, pendapatan operasional lainnya (other operating revenues) mengalami pertumbuhan 1,9 persen yoy dari Rp533 miliar pada 2024 menjadi Rp543 miliar pada 2025.

Lebih jauh Adi mengatakan pihaknya menargetkan pertumbuhan sebesar 9-10 persen tahun ini melalui delapan strategi pengembangan perusahaan.

Strategi pertama, lanjut dia, adalah menguatkan portofolio bisnis dan finansial. Perseroan juga akan berupaya untuk menjaga dan mengoptimalkan lini bisnis eksisting.

Selain itu, pihaknya juga memprioritaskan pengembangan lini bisnis dengan tingkat retensi yang tinggi, mengoptimalisasi pengelolaan arus kas (cashflow)dan pengembalian investasi (investment return), serta memperkuat sistem digital dan data center agar operasional semakin efisien dan terintegrasi.

“Lalu, (meningkatkan kapasitas) dari sisi SDM (sumber daya manusia), dan (strategi) nomor tujuh itu menguatkan branding dan value proposition (identitas, reputasi, dan persepsi merek perseroan di masyarakat). Dan (strategi) yang ke delapan, kami juga memperkuat daripada risk management (manajemen risiko),” ujar Adi Pramana. pan

15 Perusahaan Siap IPO, 11 Masuk Kategori Jumbo

JAKARTA (LB) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 15 perusahaan dalam antrean pencatatan saham atau Initial Public Offering (IPO) hingga 10 April 2026. 11 perusahaan masuk kategori jumbo.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, merinci 11 memiliki aset skala besar di atas Rp250 miliar. Sementara empat perusahaan lainnya aset skala menengah Rp50 miliar-Rp250 miliar. “Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Nyoman dalam keterangan tertulis dikutip Sabtu (11/4).

Antrean IPO didominasi sektor healthcare empat perusahaan, disusul consumer non-cyclicals tiga perusahaan. Selebihnya berasal dari consumer cyclicals, infrastructures, technology, energy, dan financials.

Hingga 10 April 2026, BEI mencatat baru satu perusahaan yang melantai di bursa melalui IPO dengan total dana dihimpun Rp 0,30 triliun. IPO perdana ini dilakukan untuk PT BSA Logistic Tbk (WBSA) pada Jumat (10/4) kemarin.

“Sampai dengan 10 April 2026 telah tercatat 1 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan dana dihimpun Rp 0,30 triliun,” jelasnya.

Kemudian untuk obligasi, BEI telah menerbitkan 50 emisi obligasi dan sukuk atau Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 33 penerbit. Adapun total dana yang dihimpun mencapai Rp55,20 triliun.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *