Pemerintah Mau Perluas Akses KUR Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/Kabekraf) Teuku Riefky Harsya membahas peningkatan akses pendanaan bagi pelaku ekonomi kreatif, termasuk optimalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan skema pendanaan lainnya.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah masih meninjau jumlah KUR yang didistribusikan tanpa adanya batasan. Ia menekankan pentingnya peran Kemenekraf sebagai kurator untuk memastikan KUR tepat sasaran bagi pelaku ekonomi kreatif.

“Salah satu tantangan yang dihadapi adalah penilaian terhadap Kekayaan Intelektual (KI) sebagai aset yang belum terlihat secara konkret dalam mekanisme pembiayaan,” kata Airlangga saat menerima kunjungan Kemenekraf di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (26/3).

Menekraf Riefky menyampaikan bahwa pemerintah berupaya memperluas akses pendanaan, khususnya bagi sektor animasi, perfilman, event dan musik.

“Saat ini, hanya 10 dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang mendapatkan akses KUR. Kami mendorong adanya skema khusus yang memungkinkan pelaku industri kreatif mendapatkan pinjaman berbasis aset KI. Dengan pendekatan ini, industri perfilman misalnya, bisa mengakses KUR hingga Rp10 miliar,” jelasnya.

Selain itu, Kemenekraf juga mengusulkan kebijakan pembebasan cukai bagi industri perfilman dan event, termasuk alat-alat produksi yang digunakan dalam penyelenggaraan acara musik dan festival. Skema ini diharapkan dapat menarik lebih banyak produksi film internasional ke Indonesia dan meningkatkan daya saing industri kreatif lokal.

Dalam sektor teknologi, Kemenko Perekonomian menyarankan untuk turut mendorong skema insentif bagi pengembang perangkat lunak (software development) yang berorientasi ekspor.

“Produk digital memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas. Dengan dukungan skema insentif yang tepat, industri ini dapat berkembang lebih pesat,” tambah Airlangga.

Kemenekraf saat ini mengadopsi pendekatan Hexalix, yang melibatkan kerja sama antara pemerintah, asosiasi industri, pelaku bisnis, lembaga keuangan, akademisi, serta komunitas kreatif.

Sinergi ini bertujuan untuk mengatasi hambatan regulasi, memperbaiki sistem pembiayaan, serta meningkatkan daya saing ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan baru (new engine of growth).

Menekraf Riefky juga menekankan pentingnya keakuratan data dalam distribusi KUR. “Saat ini, presentasi distribusi KUR untuk ekonomi kreatif hanya 2,4%. Kami berharap Kemenko Perekonomian dapat mendukung revisi kebijakan agar lebih banyak pelaku ekraf yang memperoleh manfaat dari program ini,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *