Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
JAKARTA – Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada kategori investment grade ‘BBB’. Sejalan dengan hasil penilaian tersebut, terdapat pula revisi outlook dari Stable menjadi Negative.
Pemerintah mencatat keseluruhan hasil penilaian ini dan memandangnya sebagai momentum untuk semakin memperkuat konsistensi kebijakan ekonomi serta mengakselerasi agenda reformasi struktural yang sedang berjalan.
“Pemerintah menghargai penilaian Fitch Ratings yang kembali menempatkan Indonesia dalam kategori investment grade. Peringkat BBB yang dipertahankan mencerminkan pengakuan atas fundamental ekonomi Indonesia yang solid. Revisi outlook menjadi Negative kami jadikan dorongan untuk semakin memperkuat konsistensi kebijakan, memperluas basis penerimaan negara, dan mengakselerasi reformasi struktural,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dikutip dari laman Kemenko Perekonomian, Jumat (6/3).
Dalam penilaiannya, Fitch secara eksplisit mengakui sejumlah kekuatan fundamental perekonomian Indonesia. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan sekitar 5% per tahun merupakan yang tertinggi di antara peers kategori BBB, atau dua kali lipat dari rata-rata median kelompok tersebut.
Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga tercatat jauh di bawah median peers, mencerminkan disiplin fiskal yang konsisten. Lebih jauh, Fitch memberikan penyesuaian kualitatif positif (Qualitative Overlay +1 notch) kepada Indonesia sebagai pengakuan atas rekam jejak stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan jangka menengah yang kuat.
Indonesia juga tercatat tidak pernah melakukan restrukturisasi utang publik selama lebih dari 20 tahun.
Merespons hasil penilaian tersebut, Pemerintah terus mengakselerasi sejumlah agenda reformasi struktural. Di sisi penerimaan negara, reformasi perpajakan melalui implementasi sistem Coretax Direktorat Jenderal Pajak terus diperkuat untuk meningkatkan administrasi dan kepatuhan pajak.
Agenda hilirisasi industri dan optimalisasi aset negara terus diperkuat melalui Danantara yang akan mendorong investasi di sektor mineral, energi, pangan, dan pertanian, sekaligus memperkuat struktur ekspor Indonesia agar lebih berorientasi pada produk bernilai tambah tinggi dan mengurangi ketergantungan terhadap komoditas mentah yang rentan terhadap volatilitas harga global.***
