RI-Swiss Cetak SDM Industri Berdaya Saing Global Lewat Pendidikan Vokasi

Foto: Kemenperin.

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengintensifkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri guna memperkuat daya saing sektor manufaktur yang merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Upaya nyata yang dilaksanakan antara lain melalui penguatan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

“Salah satu strateginya adalah program pendidikan vokasi yang dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja industri yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu bersaing di tingkat global,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari laman Kemenperin, Sabtu (22/11).

Agus menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus memperluas dan memperdalam kualitas pendidikan vokasi di seluruh unit pendidikan milik Kemenperin. “Sebab, peningkatan kualitas SDM menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri di tengah persaingan global yang semakin ketat,” ujarnya.

Dijelaskan Agus, program vokasi Kemenperin selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi, yang bertujuan menghasilkan lulusan berkompeten, mudah diserap pasar kerja, atau bahkan mampu menciptakan usaha sendiri.

Oleh karena itu, melalui peran Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Kemenperin mengelola 11 politeknik, dua akademi komunitas, dan sembilan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pusat pengembangan SDM industri.

“Seluruh satuan pendidikan vokasi ini terus didorong untuk memperkuat kurikulum dan metode pembelajaran agar semakin terhubung dengan kebutuhan nyata industri,” tambah Agus.

Guna mencetak SDM industri yang kompeten, salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah penyelenggaraan Pelatihan Industrial-Based Curriculum (IBC). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara BPSDMI Kemenperin dengan Pemerintah Swiss melalui Swisscontact serta proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C).

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menyampaikan, pelatihan IBC ini menjadi bagian penting dalam upaya memastikan kurikulum vokasi benar-benar mencerminkan kondisi, standar, dan kebutuhan industri. “Melalui pendekatan tersebut, lulusan vokasi diharapkan dapat memiliki kompetensi teknis maupun soft skill yang relevan dengan dunia kerja,” jelas Doddy dalam keterangannya.

Manager VET Development Swisscontact, Kiky Hendarin, juga menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk mendorong keselarasan kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri nasional. Menurutnya, implementasi kurikulum berbasis industri harus diperkuat melalui peningkatan kapasitas fasilitator agar mampu memimpin pembaruan kurikulum di tingkat satuan pendidikan.

“Swisscontact berkomitmen penuh untuk memperluas dukungan pelatihan sehingga jumlah fasilitator IBC semakin bertambah dan implementasi kurikulum berbasis industri dapat berjalan lebih merata di seluruh Indonesia,” ungkap Kiky.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *