Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mengantisipasi dampak kemarau panjang yang diperkirakan terjadi tahun ini.
BANDUNG (LB)- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mengantisipasi dampak kemarau panjang yang diperkirakan terjadi tahun ini. Wilayah Bandung Utara, menjadi kawasan yang paling rawan terdampak akibat menurunnya ketersediaan air bersih.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, tanda-tanda kekeringan mulai terlihat dari menurunnya debit air yang diterima sebagian pelanggan PDAM di wilayah Bandung Utara.
‘Isu utama saat kemarau adalah ketersediaan air bersih, terutama di Bandung Utara. Saat ini beberapa pelanggan PDAM sudah mulai merasakan debit air yang mengecil,” kata Farhan, Selasa (9/6).
Menurutnya, Pemkot Bandung telah melakukan berbagai langkah antisipasi memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau. Salah satunya melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, TNI dan BMKG.
Farhan menjelaskan, koordinasi tersebut dilakukan dalam rapat yang digelar di Mabes TNI AD pada Kamis (4/6) lalu. Rapat tersebut dipimpin Gubernur Jawa Barat, Kepala Staf Angkatan Darat dan Kepala BMKG.
“Dalam pertemuan itu kami memastikan bantuan penyaluran air, baik air minum maupun air bersih bisa berjalan dengan baik untuk masyarakat Kota Bandung khususnya yang berada di wilayah Bandung Utara,” ucapnya.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan pemerintah, Bandung Utara menjadi daerah yang memiliki kerawanan paling tinggi terhadap ancaman kekeringan selama musim kemarau.
“Wilayah yang paling rawan memang Bandung Utara. Karena itu berbagai langkah mitigasi harus segera disiapkan sejak sekarang,” ujar dia.
Selain menyiapkan distribusi bantuan air bersih, pihaknya juga tengah mengupayakan penambahan pasokan air dari sejumlah sumber. Salah satunya melalui kerja sama dengan PDAM Kabupaten Bandung meningkatkan debit air dari kawasan Kertasari.
Di sisi lain, pemerintah kota juga akan mencoba memanfaatkan air baku dari Sungai Cikapundung dengan kapasitas sekitar 200 liter per detik.
“Kami sedang mengkaji pemanfaatan air baku dari Sungai Cikapundung. Harapannya, air tersebut bisa diolah untuk kebutuhan masyarakat selama musim kemarau,” ucapnya.
Farhan mengakui, kualitas air dari sungai tersebut masih memerlukan pengolahan lebih lanjut. Namun setidaknya sumber air itu dapat dimanfaatkan kebutuhan nonkonsumsi apabila belum memenuhi standar air minum.
“Kalaupun nantinya belum bisa digunakan sebagai air konsumsi, kami akan memastikan kualitasnya cukup baik dan jernih sehingga bisa dimanfaatkan untuk mencuci dan kebutuhan sehari-hari lainnya,” tutur dia. Pihaknya berharap, berbagai langkah antisipasi yang sedang disiapkan dapat mengurangi dampak kemarau panjang terhadap masyarakat. “Terutama untuk di wilayah, yang selama ini memang menjadi langganan kekurangan pasokan air bersih,” tandasnya. *
